Lempeng Batu Bergambar Lingkaran Merah Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Pulau Wetar, Maluku, Bukti Seni Tertua Nenek Moyang Austronesia

Penulis: Pandu Wibisono  •  Kamis, 03 September 2026 | 16:16:01 WIB
Lempeng batu bergambar lingkaran merah berusia 4.000 tahun ditemukan di Pulau Wetar, Maluku.

AMBON — Sebuah lempeng batu kecil bergambar pola lingkaran konsentris merah dan pancaran "sinar matahari" mengubah pemahaman para ilmuwan tentang kapan seni lukis cadas mulai berkembang di kepulauan Indonesia bagian timur. Artefak yang digali dari ceruk batu Huknaur di Pulau Wetar ini dinilai sebagai bukti awal tradisi seni yang dibawa oleh penutur bahasa Austronesia, kelompok pelaut purba yang menjadi nenek moyang sebagian besar orang Indonesia.

Sebelumnya, gaya lukisan berupa lingkaran merah dan pola memancar ini banyak ditemukan menempel pada dinding gua di kawasan Indonesia timur hingga Pasifik Barat. Namun, usia lukisan-lukisan dinding itu sulit diketahui secara pasti karena tidak ada bahan organik yang bisa diuji. Lempeng dari Pulau Wetar ini berbeda — karena berupa benda lepas yang terkubur dalam lapisan tanah, para peneliti bisa menentukan usianya hingga sekitar 4.000 tahun.

Mengapa temuan di Pulau Wetar ini dianggap penting?

Artefak ini merupakan contoh pertama seni portabel, atau benda seni yang dapat dipindahkan, yang terkait langsung dengan APT. Para arkeolog menilai keberadaannya memberikan gambaran langka mengenai dunia simbolis manusia Austronesia yang selama ini hanya bisa ditebak dari lukisan di dinding gua.

Yang lebih menarik, usia lempeng yang mencapai 4.000 tahun itu menunjukkan bahwa tradisi melukis Austronesia telah berkembang jauh sebelum masa tembikar Neolitikum dimulai di kawasan ini. Artinya, kebiasaan menggambar pola tertentu sudah ada lebih dulu dibandingkan teknologi pembuatan gerabah yang selama ini kerap dijadikan penanda awal migrasi besar Austronesia.

Apa saja motif yang terpahat di lempeng kuno itu?

Desain yang tergambar terdiri atas lingkaran-lingkaran konsentris berwarna merah yang dikelilingi garis-garis pendek memancar menyerupai sinar matahari. Motif ini merupakan ciri khas APT yang tersebar di wilayah Indonesia bagian timur dan Pasifik Barat, daerah persebaran bahasa-bahasa Austronesia.

Tim internasional yang dipimpin arkeolog ANU dan peneliti BRIN melakukan penggalian di situs Huknaur untuk mendapatkan lapisan tanah yang bisa dikaitkan dengan periode hunian manusia purba di pulau tersebut. Pulau Wetar sendiri berada di gugusan Kepulauan Barat Daya yang menjadi salah satu jalur migrasi purba dari Asia menuju Pasifik.

Bagaimana temuan ini mengubah kronologi sejarah seni di Indonesia?

Publikasi di jurnal PNAS menegaskan bahwa tradisi melukis dengan pola geometris merah sudah dipraktikkan manusia di kawasan Indonesia bagian tenggara sejak ribuan tahun lalu. Sebelum penemuan ini, kronologi APT masih menjadi perdebatan karena sebagian besar bukti berupa lukisan dinding yang sulit diukur usianya secara akurat.

Dengan adanya lempeng batu yang tertanam dalam konteks stratigrafi jelas, para ilmuwan kini memiliki titik acuan baru untuk menelusuri kapan gelombang penutur Austronesia mulai menyebar ke timur hingga mencapai Pasifik. Temuan di Pulau Wetar memperkuat posisi Maluku sebagai salah satu wilayah kunci dalam studi migrasi dan perkembangan seni prasejarah di Nusantara.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: beritabeta.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top