AMBON — Kekeringan akibat El Nino mulai mengancam sektor pertanian di Maluku. Kepala BBRMP Maluku Gunawan mengungkapkan, dampak paling signifikan terlihat di Bendungan Waimatakabu, Seram Bagian Timur, dengan penurunan debit air yang drastis.
Melalui kolaborasi Dinas Pertanian kabupaten, penyuluh, dan Balai Wilayah Sungai (BWS), sekitar 5 hektare lahan pertanian di wilayah tersebut masih dapat diselamatkan dari gagal panen.
Gunawan memaparkan empat langkah utama yang disiapkan untuk mengantisipasi dampak lebih luas. Penyesuaian pola dan strategi tanam menjadi prioritas pertama, disusul penggunaan varietas tanaman yang adaptif terhadap kekeringan.
Efisiensi pemanfaatan sumber daya air juga menjadi fokus, diperkuat dengan penguatan koordinasi dan respons cepat di lapangan. Langkah-langkah ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Program Pertanian Provinsi Maluku dan Penanganan El Nino yang digelar di Aula Gandaria BBRMP Maluku.
"Kondisi ini menunjukkan pentingnya koordinasi yang cepat dan terpadu untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap produksi pertanian," ujar Gunawan di Ambon, Selasa (8/9).
Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Sadali Ie menegaskan, pembangunan sektor pertanian memiliki peran penting dalam mewujudkan swasembada pangan nasional sekaligus mendorong hilirisasi pertanian. Sadali mendorong penguatan koordinasi lintas sektor sebagai langkah antisipatif.
Kepala BMKG Ambon Sujabar menekankan pentingnya langkah mitigasi secara terencana dan terukur. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi penyesuaian waktu tanam, pemilihan varietas, efisiensi penggunaan air, hingga pengelolaan lahan.
Perlindungan tanaman dan sistem respons cepat terhadap perkembangan kondisi iklim juga menjadi catatan penting dari BMKG. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah ketidakpastian cuaca.