PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ambon resmi memberlakukan layanan penyeberangan 24 jam di lintasan Hunimua-Waipirit setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai Juni 2026. Kebijakan ini memperpanjang operasional hingga dini hari agar warga Pulau Seram bisa menuntaskan urusan di Kota Ambon tanpa terikat jadwal kapal terakhir pukul 21.00 WIT. Lintasan ini termasuk 15 jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia dengan volume logistik dan penumpang tertinggi.
AMBON — Kapal khusus melayani penyeberangan mulai pukul 23.30 WIT hingga 04.00 WIT, lalu disambung kapal reguler yang memulai proses pemuatan pukul 05.00 WIT. Skema ini digulirkan lewat kolaborasi ASDP dengan Dinas Perhubungan, BPTD Maluku, dan PT Panca Karya.
Sebelumnya, layanan nonstop ini diuji coba saat Lebaran Idul Fitri pada Maret 2026, lalu dilanjutkan pada libur panjang Mei dan Idul Adha. Tingginya mobilitas warga selama periode itu mendorong ASDP memperluas layanan secara tetap.
Hunimua dan Waipirit dipisahkan jarak sekitar 11,5 mil laut. Kedua pelabuhan menghubungkan Pulau Ambon dan Pulau Seram, dua titik dengan pergerakan orang dan barang yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Lintasan ini masuk daftar pantauan nasional sebagai satu dari 15 jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia. Kepadatan itulah yang membuat tambahan jam operasional dinilai mendesak, bukan sekadar peningkatan layanan biasa.
Selama ini penumpang dan kendaraan kerap menanti berjam-jam. Ada yang datang dini hari demi mengejar pelayaran pertama pukul 05.00 WIT, ada pula yang tertahan sejak malam karena tertinggal kapal terakhir pukul 21.00 WIT.
ASDP mengoperasikan 11 kapal di Maluku. Delapan kapal melayani rute dari Pulau Ambon hingga Pulau Buru, sementara tiga kapal lainnya beroperasi di wilayah Maluku Tenggara.
Pada 2026, ASDP melayani 24 lintasan perintis. Sebagian wilayah masih menghadapi keterbatasan akses, sementara lintasan lain butuh pembukaan rute baru — bukan sekadar penambahan jam perjalanan.
Pelaksana Tugas General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ambon, Hafiluddin Usman, menyatakan kebijakan ini menyasar kebutuhan warga Seram yang ingin pulang-pergi ke Ambon dalam satu hari.
"Kebijakan 24 jam ini diberlakukan agar masyarakat Seram bisa berkunjung ke Kota Ambon saat akhir pekan, lalu langsung kembali lagi begitu urusannya selesai," ujar Hafiluddin.
Ia berharap peningkatan kualitas layanan penyeberangan dan fasilitas pelabuhan mampu memperkuat konektivitas antarpulau sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi, perdagangan, hingga sektor pariwisata di Maluku.
La Andi (43), sopir pikap muatan ikan, mengaku layanan 24 jam memberi fleksibilitas lebih bagi dirinya dan rekan-rekan sesama sopir untuk membawa barang, terutama saat ada keperluan mendesak yang mengharuskan mereka segera kembali.
"Kalau ada kapal sampai malam begini, kami tidak khawatir lagi jika urusan di Ambon selesai terlambat. Masih ada kesempatan untuk pulang," tuturnya.
Kapal ferry di jalur ini mengangkut hasil laut dan hasil kebun dari Seram menuju Ambon, begitu pula sebaliknya. Kestabilan harga kebutuhan pokok di kedua pulau bergantung pada kelancaran pelayaran.
Jika pelayaran terhenti, roda perekonomian bisa seketika lumpuh. Tambahan waktu operasional hingga dini hari membuka ruang bagi barang kebutuhan tiba di pasar lebih cepat dan truk logistik tidak menumpuk di gerbang dermaga.
Bagi masyarakat kepulauan Maluku, setiap pelayaran bukan sekadar perjalanan menyeberangi selat. Kapal ferry adalah urat nadi yang menjaga dua pulau tetap saling terhubung ketika daratan telah lelap.