Pemkot Ambon dan Polnam Kembangkan Mesin Pengolah Sampah Skala Lingkungan, Siap Diuji di Tingkat RT

Penulis: Ramli Siregar  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 06:16:31 WIB
Walikota Ambon Bodewin M Wattimena menyampaikan kerja sama Pemkot Ambon dan Polnam dalam pengembangan mesin pengolah sampah skala lingkungan.

AMBON — Kolaborasi antara Pemkot Ambon dan Politeknik Negeri Ambon (Polnam) menghasilkan mesin pengolah sampah yang dirancang untuk beroperasi di skala lingkungan atau komunitas, bukan hanya di tingkat kota. Walikota Ambon Bodewin M Wattimena menyampaikan hal tersebut di Ambon, Selasa (6/10/2026), usai membahas kerja sama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Bodewin menilai mesin itu merupakan salah satu inovasi yang bisa dikembangkan lewat kemitraan pemda dan kampus. Ia menyebut persoalan sampah sebagai bagian dari pekerjaan rumah daerah yang menuntut solusi nyata, bukan sekadar kajian.

Empat Persoalan Daerah yang Jadi Prioritas Kerja Sama

Dalam pertemuan tersebut, Bodewin menyebut sejumlah masalah yang dinilai butuh kontribusi akademisi. Selain sampah, ia menyoroti banjir, kemacetan, air bersih, dan penataan kawasan kumuh sebagai isu yang harus dicarikan jalan keluarnya bersama.

"Kita butuh kontribusi nyata akademisi untuk mengatasi persoalan daerah, seperti masalah sampah, banjir, kemacetan, air bersih, hingga penataan kawasan kumuh," kata Bodewin.

Pemkot Ambon menyatakan membuka ruang kerja sama seluas-luasnya dengan perguruan tinggi. Menurut Bodewin, kampus berperan menghasilkan inovasi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

"Pemkot Ambon berkomitmen menjadikan Polnam dan perguruan tinggi lainnya sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah," ujarnya.

Mesin Sampah Jadi Pintu Masuk Program Ambon Smart City

Kolaborasi itu tidak berhenti pada persoalan sampah. Bodewin menyebut kerja sama dengan Polnam juga diarahkan menopang program Ambon Smart City dan penguatan UMKM lokal.

Ia mendorong perguruan tinggi dan lembaga terkait memperkuat kemitraan di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, otomatisasi, serta perubahan iklim. Menurutnya, tantangan itu menuntut daerah bergerak lebih cepat dan tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah.

Polnam: Kami Tidak Ingin Hanya Jadi Pihak yang Butuh Dukungan

Direktur Polnam Marceau AF Haurisa menegaskan posisi kampusnya dalam kerja sama tersebut. Ia tidak ingin Polnam diposisikan sebagai institusi yang hanya menerima bantuan dari pemerintah.

"Polnam tidak ingin hanya hadir sebagai institusi yang membutuhkan dukungan, tetapi Polnam harus hadir sebagai mitra pembangunan," kata Marceau.

Marceau menyebut Polnam memiliki sumber daya manusia, mahasiswa, kompetensi vokasi, laboratorium, serta kapasitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Semua aset itu, menurutnya, bisa disinergikan dengan kebutuhan pemerintah, industri, dan masyarakat melalui penelitian terapan, pengabdian, dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Magang hingga Penelitian Terapan Jadi Bentuk Sinergi Berikutnya

Polnam berharap pemerintah dan dunia industri membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja. Marceau menyebut program magang, pembelajaran berbasis dunia kerja, hingga penelitian terapan sebagai bentuk kemitraan yang ingin diperluas.

"Inilah sinergi yang ingin kita bangun, bukan siapa yang membantu siapa, tetapi apa yang kita kerjakan bersama dan dampak apa yang kita hasilkan bersama," ujarnya.

Belum ada keterangan resmi mengenai jadwal uji coba mesin pengolah sampah tersebut, lokasi lingkungan yang akan dipilih lebih dulu, maupun besaran anggaran yang disiapkan. Pemkot Ambon menyatakan komitmen menjadikan Polnam dan perguruan tinggi lain sebagai mitra strategis pembangunan daerah, dengan mesin sampah sebagai salah satu hasil awal yang diharapkan segera diterapkan di tingkat komunitas.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: terasmaluku.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top