Pencarian

Penyerapan Beras dan Jagung Lokal Jadi Prioritas Bulog Sulteng 2026

Senin, 19 Januari 2026 • 14:37:00 WIB
Penyerapan Beras dan Jagung Lokal Jadi Prioritas Bulog Sulteng 2026
Penyerapan Beras dan Jagung Lokal Jadi Prioritas Bulog Sulteng 2026

JAKARTA - Menjaga ketahanan pangan di Sulawesi Tengah menjadi fokus utama Perum Bulog Kanwil Sulteng pada 2026. 

Untuk itu, Bulog menargetkan serapan beras lokal hingga 11.000 ton, sekaligus memperluas penyerapan komoditas jagung yang kini ditargetkan mencapai 3.000 ton. Langkah ini diambil sebagai upaya memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani lokal.

Pemimpin Wilayah Bulog Kanwil Sulawesi Tengah, Jusri, menyatakan bahwa program serapan pangan dilakukan melalui dua skema. Pertama, pembelian gabah kering panen dari petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. 

Kedua, pembelian beras dengan harga Rp12.000 per kilogram. Skema ini memberikan fleksibilitas bagi petani untuk menjual dalam bentuk gabah maupun beras, sesuai kondisi produksi mereka.

“Target ini terus kami tingkatkan melalui sosialisasi kepada masyarakat, terutama petani. Selama ini petani masih cenderung menjual dalam bentuk beras, padahal Bulog juga menyerap gabah,” jelas Jusri.


Potensi Penyerapan Gabah Hampir Merata di Sulteng

Hampir seluruh wilayah di Sulawesi Tengah memiliki potensi untuk penyerapan gabah, namun saat ini Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong diperkirakan menjadi daerah yang lebih awal memasok gabah ke Bulog. 

Jusri menambahkan, “Wilayah serap gabah hampir di seluruh daerah di Sulteng potensial, hanya saja saat ini Donggala dan Parigi Moutong yang stoknya diperkirakan lebih cepat masuk.”

Dengan adanya penyerapan gabah di berbagai wilayah, diharapkan petani tidak lagi terbatas menjual hasil panen hanya dalam bentuk beras. 

Strategi ini sekaligus bertujuan mengurangi fluktuasi harga di pasar lokal, karena stok yang diserap Bulog dapat menstabilkan pasokan.


Peningkatan Serapan Jagung Jadi Fokus Tambahan

Selain beras, Bulog Sulteng juga meningkatkan target penyerapan jagung pada 2026. Tahun sebelumnya, penyerapan jagung hanya mencapai sekitar 200 ton, namun tahun ini ditargetkan naik menjadi 3.000 ton. 

Harga pembelian jagung di tingkat petani ditetapkan Rp5.500 per kilogram untuk jagung dengan kadar air 18-20 persen, sedangkan jagung dengan kadar air maksimal 14 persen diserap dengan harga Rp6.400 per kilogram dan langsung disimpan di gudang Bulog.

“Penyerapan hasil pertanian konsisten kami lakukan sebagai upaya menjaga ketahanan pangan daerah,” tutur Jusri.

Peningkatan target penyerapan jagung ini juga didorong oleh momentum harga yang cukup menguntungkan bagi petani. 

Petani menyambut positif upaya Bulog dalam menyerap hasil panen mereka sehingga dapat menstabilkan pendapatan dan mengurangi risiko kerugian akibat harga pasar yang fluktuatif.


Kolaborasi dengan Mitra Lokal untuk Distribusi Jagung

Jusri menjelaskan bahwa Bulog Sulteng telah menjalin kerja sama dengan beberapa mitra dari wilayah Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, yang siap memasok stok jagung ke gudang Bulog. Ia berharap daerah lain juga dapat menyusul agar target 3.000 ton dapat tercapai.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan serapan komoditas lokal, tetapi juga memperkuat rantai pasok pangan di Sulteng. Dengan pasokan yang lebih stabil, masyarakat akan menikmati ketersediaan beras dan jagung yang lebih merata di seluruh daerah, sekaligus memberikan keuntungan ekonomi bagi petani.


Manfaat Ekonomi bagi Petani Lokal

Langkah Bulog dalam menyerap gabah, beras, dan jagung secara konsisten memberikan manfaat langsung bagi petani. Dengan adanya penyerapan oleh Bulog, petani memiliki kepastian pasar dan harga, sehingga mereka dapat merencanakan produksi dengan lebih baik.

Skema pembelian gabah dengan harga tetap Rp6.500 per kilogram misalnya, memberikan jaminan bagi petani terhadap fluktuasi harga di pasar lokal. Demikian pula dengan pembelian jagung dan beras yang ditetapkan Bulog, memberikan nilai tambah bagi hasil panen petani.


Strategi Bulog Sulteng untuk Stabilitas Pangan Daerah

Dengan target serapan 11.000 ton beras dan 3.000 ton jagung, Bulog Sulteng menunjukkan strategi proaktif dalam menjaga stabilitas stok pangan. Jusri menekankan, keberhasilan penyerapan tidak hanya bergantung pada Bulog, tetapi juga kesadaran dan partisipasi petani dalam menjual hasil panennya kepada Bulog.

Melalui sosialisasi yang terus dilakukan, Bulog berharap lebih banyak petani memahami manfaat menjual gabah maupun beras ke Bulog, sehingga distribusi pangan tetap terkendali, harga relatif stabil, dan masyarakat dapat menikmati ketersediaan pangan yang cukup.


Harapan ke Depan

Dengan penyerapan beras dan jagung yang meningkat, Bulog Sulteng berharap mampu menekan lonjakan harga di pasaran, mendukung ketahanan pangan, dan memastikan pasokan cukup untuk masyarakat. Selain itu, program ini menjadi dorongan ekonomi bagi petani lokal, meningkatkan pendapatan mereka, dan memperkuat ketahanan pangan di Sulawesi Tengah secara berkelanjutan.

Jusri menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa momentum harga dan dukungan petani dapat menjadikan target penyerapan 2026 tercapai, sehingga Sulawesi Tengah memiliki pasokan pangan yang stabil dan petani merasakan manfaat ekonomi langsung dari program ini.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks