Pencarian

Kebakaran di Ambon Capai 157 Kejadian Sepanjang 2026, Nusaniwe Melonjak 33 Kasus pada Oktober

Kamis, 22 Oktober 2026 • 06:15:31 WIB
Kebakaran di Ambon Capai 157 Kejadian Sepanjang 2026, Nusaniwe Melonjak 33 Kasus pada Oktober
Pemerintah Kota Ambon menilai tren kebakaran sepanjang 2026 perlu direspons dengan penguatan koordinasi antarperangkat daerah.

AMBON — Pemerintah Kota Ambon menilai tren kebakaran sepanjang 2026 perlu direspons dengan penguatan koordinasi antarperangkat daerah. Bodewin menyampaikan imbauan itu kepada wartawan di Ambon, Rabu (21/10/2026), sehari setelah data rekapitulasi kebakaran diperbarui.

Angka 157 kejadian itu tersebar tidak merata sepanjang tahun. Enam bulan pertama 2026 relatif landai, sebelum kurva melonjak drastis mulai Agustus.

Dari 11 Kasus per Bulan Menjadi 60 Kasus dalam 21 Hari

Pada Januari dan Februari, masing-masing tercatat 11 kejadian kebakaran. Angka itu turun menjadi enam kejadian pada Maret, lalu lima kejadian pada April, Mei, dan Juni. Juli kembali mencatat enam kejadian.

Pola berubah pada Agustus dengan 15 kejadian. September melesat ke 33 kejadian, dan hingga 21 Oktober sudah tercatat 60 kejadian — angka bulanan tertinggi sepanjang periode pencatatan 2026.

Rekapitulasi kebakaran hutan dan lahan menunjukkan pola serupa. September mencatat 26 kejadian, Oktober 54 kejadian, atau bertambah 28 kasus atau sekitar 107,7 persen dibanding bulan sebelumnya.

Nusaniwe Melonjak Empat Kali Lipat, Sirimau Justru Turun

Sebaran wilayah memperlihatkan kontras tajam. Kecamatan Nusaniwe mencatat kenaikan paling menonjol, dari sembilan kejadian pada September menjadi 33 kejadian pada Oktober.

Kecamatan Sirimau bergerak sebaliknya, turun dari 12 menjadi 11 kasus. Teluk Ambon naik dari dua menjadi enam kejadian, sedangkan Teluk Ambon Baguala stabil di tiga kejadian pada September dan Oktober.

Leitimur Selatan mencatat satu kejadian pada Oktober setelah bulan sebelumnya nihil laporan.

Pembakaran Lahan Tanpa Pengawasan Jadi Perhatian

Bodewin menyoroti aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali sebagai salah satu pemicu yang harus dihindari warga. Ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas berisiko yang berpotensi memicu kebakaran.

"Kesadaran dan kewaspadaan masyarakat sangat penting untuk mencegah terjadinya kebakaran. Kami mengimbau warga agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan yang tidak terkendali," kata Bodewin.

Selain imbauan ke warga, ia mendorong penguatan koordinasi antarperangkat daerah. Cakupannya meliputi kesiapan personel, dukungan peralatan, pemantauan kawasan rawan, serta kecepatan merespons laporan masyarakat.

"Pencegahan harus menjadi perhatian bersama. Pemerintah dan masyarakat perlu saling mendukung, sehingga potensi kebakaran dapat diantisipasi sedini mungkin dan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas," ujarnya.

Data 2025 Hanya Empat Bulan, Perbandingan Perlu Hati-hati

Pemkot Ambon juga merilis data pembanding periode September–Desember 2025 yang mencatat total 27 kejadian. Rinciannya, lima kejadian pada September, enam pada Oktober, tiga pada November, dan 13 pada Desember.

Bodewin mengingatkan perbandingan angka itu perlu memperhatikan perbedaan periode pencatatan. Data 2025 hanya mencakup empat bulan terakhir, bukan satu tahun penuh seperti data 2026.

Ia kembali meminta warga lebih berhati-hati menggunakan sumber api dan segera melaporkan jika menemukan kebakaran. Menurutnya, peningkatan kewaspadaan dan kerja sama seluruh pihak menjadi kunci agar upaya pencegahan dan penanganan berjalan optimal, sehingga keselamatan warga, permukiman, dan lingkungan tetap terlindungi.

Follow maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: terasmaluku.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks