Harga LPG 12 Kg Resmi Naik Rp36.000 per Tabung, Pertamina Ungkap Daftar Terbaru di 34 Provinsi

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 13:01:01 WIB
Harga LPG 12 kg naik Rp36.000 per tabung di 34 provinsi mulai Juni 2026.

MALUKU — Kenaikan tertinggi terjadi pada tabung 12 kg yang naik seragam Rp36.000 di hampir semua provinsi. Sementara LPG 5,5 kg naik Rp17.000 per tabung. Di Tangerang Selatan, pantauan Selasa (2/6/2026) mencatat harga eceran LPG 12 kg sudah mencapai Rp245.000 per tabung, naik Rp35.000 dari harga sebelumnya. Adapun LPG 5,5 kg di pangkalan setempat dijual Rp125.000–Rp130.000.

LPG subsidi 3 kg tidak ikut naik. Harga di pengecer masih Rp22.000 per tabung, meski Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi untuk wilayah Tangsel ditetapkan Rp19.000 per tabung.

Daftar Harga di Tingkat Agen per 18 April 2026

Berikut rincian harga resmi di agen Pertamina Patra Niaga untuk LPG nonsubsidi, sudah termasuk PPN:

  • Jawa Tengah: 5,5 kg Rp107.000 (sebelumnya Rp90.000), 12 kg Rp228.000 (sebelumnya Rp192.000).
  • Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Sulteng, Sulsel: 5,5 kg Rp111.000, 12 kg Rp230.000.
  • Babel, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Gorontalo, Sultra: 5,5 kg Rp114.000, 12 kg Rp238.000.
  • Kalimantan Utara (Tarakan): 5,5 kg Rp124.000, 12 kg Rp265.000.
  • Maluku (Ambon) & Papua (Jayapura): 5,5 kg Rp134.000, 12 kg Rp285.000.
  • FTZ Batam: 5,5 kg Rp100.000, 12 kg Rp208.000.

Penyebab Kenaikan: Impor Menguras Devisa Rp137 Triliun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, ketergantungan Indonesia pada LPG impor sangat tinggi. Kebutuhan nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,6–1,7 juta ton. Kekurangan sekitar 7 juta ton harus diimpor setiap tahun.

“Sekarang kita belanja LPG per tahun, devisa kita keluar Rp137 triliun. Yang disubsidi negara Rp80 sampai Rp87 triliun per tahun,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa.

Pemerintah Siapkan Tiga Opsi Substitusi LPG

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah menyiapkan tiga alternatif. Pertama, Compressed Natural Gas (CNG) sebagai substitusi langsung. Kedua, gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Ketiga, perluasan Jaringan Gas (Jargas) langsung ke rumah tangga.

Targetnya, subsidi energi bisa lebih tepat sasaran dan ketergantungan pada impor berkurang secara bertahap. Namun, hingga infrastruktur pengganti siap, masyarakat harus menanggung harga LPG nonsubsidi yang lebih mahal.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: portalpantura.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top