MALUKU — Kenaikan tertinggi terjadi pada tabung 12 kg yang naik seragam Rp36.000 di hampir semua provinsi. Sementara LPG 5,5 kg naik Rp17.000 per tabung. Di Tangerang Selatan, pantauan Selasa (2/6/2026) mencatat harga eceran LPG 12 kg sudah mencapai Rp245.000 per tabung, naik Rp35.000 dari harga sebelumnya. Adapun LPG 5,5 kg di pangkalan setempat dijual Rp125.000–Rp130.000.
LPG subsidi 3 kg tidak ikut naik. Harga di pengecer masih Rp22.000 per tabung, meski Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi untuk wilayah Tangsel ditetapkan Rp19.000 per tabung.
Berikut rincian harga resmi di agen Pertamina Patra Niaga untuk LPG nonsubsidi, sudah termasuk PPN:
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, ketergantungan Indonesia pada LPG impor sangat tinggi. Kebutuhan nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,6–1,7 juta ton. Kekurangan sekitar 7 juta ton harus diimpor setiap tahun.
“Sekarang kita belanja LPG per tahun, devisa kita keluar Rp137 triliun. Yang disubsidi negara Rp80 sampai Rp87 triliun per tahun,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah menyiapkan tiga alternatif. Pertama, Compressed Natural Gas (CNG) sebagai substitusi langsung. Kedua, gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Ketiga, perluasan Jaringan Gas (Jargas) langsung ke rumah tangga.
Targetnya, subsidi energi bisa lebih tepat sasaran dan ketergantungan pada impor berkurang secara bertahap. Namun, hingga infrastruktur pengganti siap, masyarakat harus menanggung harga LPG nonsubsidi yang lebih mahal.