JAKARTA — Rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar AS yang perkasa. Berdasarkan data perdagangan, kurs rupiah dibuka di level Rp17.967 per dolar AS, turun tipis dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.952 per dolar AS. Ini merupakan level terendah rupiah dalam lebih dari setahun terakhir.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang mencapai titik tertinggi baru dalam 13 bulan. Lonjakan ini didorong oleh ekspektasi agresif pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah semakin meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, membawa indeks dolar AS naik mencapai level tertinggi baru 13 bulan,” ungkap Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pasar keuangan global saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed mencapai 70 persen pada pertemuan bulan September. Selain itu, pasar juga mengantisipasi potensi kenaikan lanjutan pada bulan Desember mendatang.
Sentimen ini semakin kuat setelah investor menanti rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Data tersebut diperkirakan naik dari 0,3 persen menjadi 0,4 persen, yang akan menjadi sinyal kuat bagi The Fed untuk terus mengetatkan kebijakan moneternya.
Di dalam negeri, tidak ada data ekonomi signifikan yang dirilis untuk menopang rupiah. Lukman menambahkan, sentimen domestik justru beragam. Meskipun masih ada aliran dana asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN), namun secara umum dana asing cenderung keluar dari pasar ekuitas.
“Tidak ada data ekonomi dari domestik, dari domestik sentimen beragam, walau dana asing masuk SBN, namun umumnya dari dana asing yang keluar dari ekuitas,” kata dia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat meskipun Bank Indonesia (BI) telah berupaya melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, para analis memprediksi pergerakan rupiah dalam waktu dekat akan berada di rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS. Level psikologis Rp18.000 kini menjadi ujian berikutnya bagi ketahanan rupiah.
Pelemahan yang berlangsung selama beberapa hari terakhir ini menjadi perhatian serius, terutama bagi pelaku usaha dan importir yang sangat bergantung pada stabilitas kurs untuk aktivitas perdagangan mereka.