AMBON — Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Surya Alamsyah, menyebut UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional yang harus terus diperkuat. Namun, ia mengakui masih banyak pelaku usaha di Maluku yang kesulitan mengembangkan produk dan meningkatkan omzet penjualan.
Menurut Surya, dua persoalan utama yang dihadapi UMKM binaan IKRA adalah keterbatasan kemampuan manajerial dan pemasaran. Kondisi ini, katanya, bisa menghambat pertumbuhan ekonomi daerah, terutama saat terjadi guncangan ekonomi eksternal.
"Skala usaha yang masih relatif kecil menyebabkan kapasitas produksi terbatas sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar secara optimal," ujar Surya dalam sambutannya.
Capacity Building kali ini difokuskan pada penguatan kompetensi di empat aspek: manajemen produksi, rantai nilai, pengelolaan keuangan, dan sumber daya manusia. Bank Indonesia mendatangkan tiga narasumber dari Tim Belajar Lagi, yakni Vebrina Wahyuningtias, Titik Agustiyani, dan Rhesa Nugroho, untuk memberikan materi kepada para peserta.
"Peningkatan daya saing dan keberlanjutan usaha kreatif syariah membutuhkan kompetensi yang sesuai dengan standar dan praktik terbaik yang berlaku," jelas Surya.
Program IKRA sendiri merupakan wadah pembinaan bagi UMKM berbasis syariah di Maluku. Melalui kegiatan ini, BI berharap para anggota mampu berinovasi dan memahami strategi peningkatan omzet secara efektif.
Surya menegaskan, Bank Indonesia tidak hanya menjalankan fungsi kebijakan moneter, tetapi juga turut memperkuat sektor riil melalui pengembangan UMKM. "Kami percaya keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi yang kuat antara seluruh pihak," katanya.
Bank Indonesia Maluku berkomitmen melanjutkan program pembinaan serupa secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.