AMBON — Ekspor perdana tuna loin ke Thailand menjadi tonggak baru bagi hilirisasi perikanan Maluku. Selama ini, hasil tangkapan nelayan dan produk olahan ikan dari provinsi tersebut lebih banyak tercatat keluar melalui pelabuhan di Surabaya, Jawa Timur.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Maluku, Ahmad Jais Ely, menyatakan langkah ini menegaskan bahwa Maluku bukan sekadar penghasil, melainkan juga daerah asal ekspor yang kredibel.
Seluruh produk perikanan yang dikirim ke Thailand telah mengantongi Sertifikat Mutu Codex Alimentarius dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP) yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sertifikat ini menjadi jaminan bahwa kualitas ikan setara standar internasional.
“Produk perikanan yang diekspor ke Thailand telah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan pangan internasional. Ini berarti juga eksportir tidak perlu takut, kualitas ikan terjamin dan langsung dikirim ke negara tujuan tanpa singgah-singgah,” ujar Ely di Ambon, Senin (6/7/2026).
Ekspor perdana ini dilakukan oleh PT Jawawi Ambon International. Perusahaan tersebut mengirimkan tuna loin langsung dari Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, tanpa harus transit di pelabuhan besar di Pulau Jawa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan ekspor nonmigas Maluku mencapai 55,56 persen pada periode Januari hingga Mei 2026. Angka ini jauh melampaui capaian periode yang sama tahun sebelumnya.
Pengiriman ke Thailand sekaligus memperluas peta tujuan ekspor komoditas nonmigas Maluku. Sebelumnya, produk perikanan dari provinsi ini rutin dikirim ke Hongkong dan Tiongkok.
Ely menjelaskan, capaian ini sejalan dengan instruksi Gubernur Maluku untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor ekspor. Dukungan KKP dalam pengujian keamanan produk menjadi faktor kunci agar ikan-ikan asal Maluku bisa tembus pasar global.
“Data BPS itu kita punya ekspor naik signifikan dari Januari sampai Mei. Dan ini sejalan dengan keinginan Gubernur Maluku agar peningkatan ekonomi melalui ekspor,” pungkasnya.