MALUKU — Gagalnya proyek FIFA Forward Enterprise menjadi pukulan telak bagi otoritas Infantino di Zurich. Skema yang dirancang untuk menarik investor swasta itu justru memicu pemberontakan dari federasi-federasi besar, memaksa presiden FIFA mundur dari rencananya sendiri setelah proyek tersebut dinilai "toksik" dan memecah belah.
"Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan dengan sifat yang, terlepas dari tingkat dukungannya, tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal. Tujuan kami selalu - dan akan selalu - menyatukan dan memperbaiki. Karena itu, proposal ini tidak akan dilanjutkan," ujar Infantino dalam pernyataan resminya.
Badan sepak bola Eropa tidak main-main. UEFA merilis pernyataan resmi yang menegaskan kepemimpinan FIFA saat ini telah kehilangan kepercayaan, tidak hanya dari Eropa tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas skema yang disebut dirancang oleh "individu-individu tanpa wajah".
"Kita tidak bisa terus seperti ini dengan skema rahasia dalam tenggat yang dipercepat, dirancang oleh individu-individu tanpa wajah dan dengan manfaat yang meragukan bagi sepak bola. Kita harus mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab dan meminta pertanggungjawaban mereka," demikian bunyi pernyataan UEFA, dilansir dari Sky News.
Tekanan justru datang dari dalam markas FIFA sendiri. Proposal tersebut memicu pengunduran diri pejabat senior Carlos Cordeiro dan Chief Operating Officer Kevin Lamour. Lamour bahkan menggambarkan usaha tersebut sebagai "proyek satu orang" dalam kritik tajamnya terhadap gaya kepemimpinan Infantino.
Wakil Presiden UEFA Laura McAllister mengonfirmasi bahwa "kepercayaan kepada presiden FIFA telah terguncang parah." Sementara itu, presiden UEFA Aleksander Ceferin dikabarkan telah meminta federasi-federasi nasional untuk mencabut surat dukungan mereka bagi pencalonan kembali Infantino.
Sejumlah nama mulai dikaitkan dengan kursi presiden FIFA. Bos PSG dan chairman European Football Clubs, Nasser Al-Khelaifi, dilaporkan menolak seruan UEFA untuk maju, meskipun ia vokal menentang manuver finansial Infantino. Kubu Al-Khelaifi menegaskan tidak ada ambisi untuk peran tersebut.
Pemimpin CONCACAF Victor Montagliani justru dianggap sebagai kandidat potensial yang realistis. Dengan pemilihan presiden berikutnya dijadwalkan pada 2027, UEFA kini menjajaki berbagai jalan untuk memaksa Infantino lengser lebih cepat.
UEFA tengah menelaah kemungkinan menggelar Kongres FIFA darurat. Langkah ini membutuhkan dukungan dari 43 dari 211 asosiasi anggota untuk memicu mosi tidak percaya secara resmi. Pengunduran diri sukarela menjadi hasil yang paling sederhana, meski tampaknya semakin sulit dicapai.
Pernyataan UEFA ditutup dengan peringatan tegas bahwa kemenangan atas rencana investasi ini hanyalah permulaan. "Ini adalah kemenangan untuk seluruh sepakbola. Tapi ini tidak boleh menjadi akhir dari cerita. Proposal itu sudah tidak ada. Tugas untuk membangun kembali kepercayaan terhadap FIFA baru saja dimulai."