Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 12,64 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.538,12 pada perdagangan Selasa pagi, di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap rilis data inflasi domestik dan dinamika geopolitik global. Penguatan ini terjadi saat pelaku pasar menantikan data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 yang diperkirakan meningkat, sekaligus mencermati eskalasi konflik AS-Iran yang berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi.
AMBON — Penguatan tipis IHSG pada pembukaan perdagangan Selasa ini terjadi di tengah spekulasi pasar terhadap data ekonomi domestik yang akan dirilis pekan ini. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa, memperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450 hingga 6.570 sepanjang hari.
Untuk konteks regional, pergerakan indeks ini patut dicermati pelaku pasar di Maluku, terutama terkait proyeksi kenaikan inflasi yang berpotensi mempengaruhi daya beli masyarakat di tengah harga kebutuhan pokok yang fluktuatif. Kondisi ini juga beririsan dengan ekspektasi kenaikan harga minyak mentah dunia pasca-serangan AS terhadap Iran yang memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya logistik antar-pulau.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan data inflasi yang diperkirakan naik ke level 0,2 persen month to month (mtm) pada Agustus 2026. Sebelumnya, pada Juli 2026, Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,14 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi diperkirakan berada di level 3,13 persen year on year (yoy) atau meningkat dibandingkan capaian Juli 2026 yang sebesar 2,88 persen (yoy). Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan naik tipis menjadi 2,8 persen (yoy) dari sebelumnya 2,76 persen (yoy). Angka ini menjadi indikator penting bagi daya beli masyarakat di daerah, termasuk Maluku.
Selain inflasi, pasar juga menantikan data neraca perdagangan yang diperkirakan mencatatkan defisit sebesar 0,3 miliar dolar AS pada Juli 2026. Angka ini membaik dibandingkan defisit bulan sebelumnya yang tercatat 0,45 miliar dolar AS pada Juni 2026.
Kendati demikian, pertumbuhan impor diperkirakan masih lebih tinggi dibandingkan ekspor. Kondisi ini layak disorot mengingat struktur perekonomian Maluku yang bergantung pada perdagangan antar-wilayah dan fluktuasi harga komoditas ekspor seperti ikan dan hasil laut.
Adapun indeks PMI Manufacturing Indonesia diestimasikan sedikit naik di level 50,5 pada Agustus 2026 dari sebelumnya 50,2 pada Juli 2026.
Dari sisi geopolitik, serangan AS terhadap Iran memicu kenaikan harga minyak kembali. Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, berpotensi kembali mendorong kenaikan laju inflasi dan memberatkan biaya distribusi barang ke wilayah timur Indonesia.
Di sisi lain, bank sentral AS (The Fed) mengisyaratkan akan lebih fokus menurunkan inflasi menuju target. Hal ini semakin meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada September 2026 mendatang. Investor juga akan memantau rilis data non-farm payrolls (NFP) AS yang diumumkan Jumat (4/9/2026).
Dari kawasan Asia, pelaku pasar menantikan data RatingDog Manufacturing PMI dari China yang diperkirakan naik ke level 51 pada Agustus 2026. Sementara bursa regional pagi ini kompak melemah, dengan indeks Nikkei turun 0,33 persen dan Hang Seng melemah 1,22 persen.