MALUKU — Menjalani kehamilan dan persalinan adalah momen yang dinanti sekaligus mencemaskan. Banyak Bunda berharap prosesnya berjalan lancar dan bayi lahir sehat. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit perempuan yang mengalami pengalaman melahirkan yang sulit dan meninggalkan luka emosional mendalam.
Trauma kelahiran bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental Bunda, bahkan membayangi keputusan untuk hamil kembali. Kabar baiknya, ada langkah sederhana yang bisa diambil sejak awal kehamilan.
Trauma kelahiran digambarkan sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang dihadapi ibu saat melahirkan. Ini bisa berupa ketakutan akan keselamatan diri sendiri atau bayi, perasaan kehilangan kendali, hingga mengalami perlakuan yang tidak nyaman dari tim medis.
Bentuknya pun beragam. Mulai dari rasa sakit yang luar biasa, komplikasi yang tidak terduga, hingga prosedur medis yang terasa invasif seperti kerusakan pada perineum atau dasar panggul. Setiap perempuan bisa memaknai pengalamannya secara berbeda.
Salah satu faktor kunci yang memengaruhi risiko trauma kelahiran adalah konsistensi tenaga medis yang menangani Bunda selama kehamilan. Artinya, memiliki dokter atau bidan yang sama dari awal pemeriksaan kehamilan hingga proses persalinan dapat memberikan rasa aman yang lebih besar.
Dalam model perawatan standar di rumah sakit publik, ibu hamil sering kali bertemu dengan staf medis yang berganti-ganti. Saat melahirkan, Bunda mungkin ditangani oleh bidan atau dokter yang belum pernah ditemui sebelumnya. Kondisi ini bisa meningkatkan perasaan cemas dan tidak nyaman.
Berbeda dengan model continuity of care atau kesinambungan perawatan. Dalam model ini, Bunda mendapatkan perawatan dari satu atau sejumlah kecil tenaga medis yang sama, baik itu bidan maupun dokter kandungan. Mereka yang mendampingi sejak pemeriksaan awal, saat persalinan, hingga setelah melahirkan.
Salah satu studi yang dilakukan di Australia terhadap 3.682 perempuan yang melahirkan pada 2020 dan 2021 meneliti hal ini. Penelitian tersebut membandingkan berbagai model perawatan, termasuk perawatan standar dan kesinambungan perawatan.
Hasilnya cukup signifikan. Perempuan yang menjalani kesinambungan perawatan kebidanan mengalami berbagai dampak positif, antara lain:
Temuan paling penting, perempuan dalam kelompok ini memiliki kemungkinan setengah lebih kecil untuk menggambarkan pengalaman melahirkannya sebagai peristiwa traumatis.
Memilih untuk konsisten dengan satu dokter atau bidan bukan sekadar soal kenyamanan administrasi. Keakraban yang terjalin memungkinkan tenaga medis memahami riwayat kesehatan dan preferensi Bunda secara lebih mendalam. Rasa percaya yang terbangun membantu Bunda merasa lebih tenang dan didukung saat persalinan berlangsung.
Bagi Bunda di Indonesia, opsi ini bisa dipertimbangkan saat memilih tempat bersalin, baik itu dokter kandungan pribadi, bidan praktik mandiri, atau klinik bersalin dengan tim yang konsisten. Meski setiap fasilitas punya sistem berbeda, komunikasikan keinginan Bunda untuk didampingi orang yang sama selama proses kehamilan dan persalinan.
Perasaan aman dan dihargai selama proses persalinan adalah hak setiap ibu. Mencari tenaga medis yang tepat, yang mampu hadir secara fisik dan emosional, adalah langkah awal yang berharga untuk memastikan pengalaman melahirkan yang positif, demi kesehatan Bunda dan si kecil.