BMKG Sebut Dentuman Bandung Diduga dari Aktivitas Gas Metana Danau Purba

Penulis: Ujang Rahmat  •  Sabtu, 05 September 2026 | 11:34:01 WIB
BMKG menduga dentuman misterius di Bandung Raya berasal dari pelepasan gas metana di Danau Purba.

MALUKU — Dentuman misterius yang membuat warga Bandung Raya bertanya-tanya sejak Jumat malam akhirnya mendapat penjelasan awal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil pemantauan sementara mengarahkan kecurigaan pada pelepasan gas metana dari dasar Danau Purba yang membentang di bawah permukaan Kota Bandung.

"Jadi ada beberapa literatur yang menyatakan bahwa mungkin adanya aktivitas gas metana di Danau Purba, tapi itu masih menjadi kecurigaan kita ya," kata Suaidi Ahadi dalam jumpa pers daring, Sabtu (5/9).

Data Satelit dan Petir Tidak Menunjukkan Anomali

Kecurigaan terhadap aktivitas Danau Purba muncul setelah BMKG memverifikasi seluruh data geofisika. Menurut Suaidi, informasi dari satelit, aktivitas magnetik bumi, konsentrasi petir, hingga tutupan awan tidak merekam kejadian abnormal di wilayah Bandung dan sekitarnya pada jam yang sama dengan munculnya dentuman.

Justru konsentrasi petir paling dominan terpantau di wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Namun demikian, BMKG enggan mengaitkan dentuman di Bandung dengan erupsi gunung api tersebut.

Alasan BMKG Menepis Kaitan dengan Gunung Anak Krakatau

Secara fisika, jarak Bandung menuju Krakatau terlalu jauh untuk mentransmisikan gelombang suara letusan. Fakta di lapangan memperkuat keraguan ini: tidak ada satu pun wilayah lain yang melaporkan fenomena serupa, termasuk Jakarta, Bogor, dan Banten yang secara geografis lebih dekat ke Krakatau.

"Pada jam yang sama, yang kita curigai pada jam yang sama tersebut terjadi aktivitas vulkanik di Krakatau. Masalahnya adalah dentuman tersebut hanya terdengar di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya," ujar Suaidi.

Faktor arah angin pun memperlemah hipotesis keterkaitan dengan Krakatau. Data BMKG menunjukkan angin bertiup dari timur ke barat, sehingga mustahil membawa suara letusan dari selatan menuju Bandung.

"Kalau seandainya memang terjadi letupan gunung api yang bisa terdengar di Kota Bandung, misalnya dibawa angin, anginnya itu dari timur ke barat. Artinya, harusnya kita enggak bisa mendengar juga untuk Kota Bandung dan sekitarnya," imbuhnya.

Fenomena Skyquake dan Tindak Lanjut Kajian

BMKG mengklasifikasikan dentuman tersebut sebagai skyquake atau gempa langit, sebuah fenomena akustik yang sumbernya belum terpetakan secara pasti oleh komunitas ilmiah global. Literatur yang menghubungkan skyquake dengan semburan gas metana dari cekungan danau purba menjadi dasar utama kecurigaan BMKG.

Suaidi menyatakan pihaknya mempersilakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta badan geologi untuk melakukan kajian lebih mendalam. Tujuannya untuk memastikan sumber dentuman secara ilmiah dan memberikan kepastian kepada publik.

Ia mengimbau masyarakat Bandung Raya tidak panik. Sejauh ini tidak ada indikasi bahaya geologi yang mengancam wilayah tersebut, dan aktivitas warga dapat berjalan normal seperti biasa.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top