MALUKU — Bandung, Jawa Barat – Arah pembangunan Indonesia ke depan tidak bisa dilepaskan dari peran perguruan tinggi, termasuk kampus-kampus keagamaan Islam negeri (PTKIN). Dalam sebuah kuliah umum yang digelar di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Wakil Menteri Agama Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi'i, S.H., M.Hum., memaparkan secara gamblang bagaimana riset kampus harus menjadi tulang punggung kemandirian bangsa.
Agenda ini bukan sekadar wacana akademik. Ia menyentuh langsung kebutuhan nyata Indonesia, mulai dari ketahanan pangan hingga penguasaan teknologi digital.
Lima Pilar Riset yang Menjadi Fokus Utama
Dalam paparannya, Wamenag merinci kelima agenda riset yang dinilai krusial. Pertama, riset untuk ketahanan pangan yang mencakup pengembangan pertanian modern, teknologi pangan, dan pengelolaan air. Tujuannya sederhana namun fundamental: bagaimana Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Kedua, riset untuk kemandirian energi. Fokusnya diarahkan pada pengembangan energi surya, bioenergi, baterai, hingga kendaraan listrik. Sumber daya energi yang besar di Indonesia, menurutnya, harus diolah dengan teknologi sendiri.
Ketiga, riset untuk hilirisasi dan industri nasional. Indonesia harus beranjak dari sekadar penjual bahan mentah menjadi penghasil produk bernilai tambah. Bidang seperti teknologi manufaktur, material maju, semikonduktor, dan teknologi kelautan menjadi sorotan.
Keempat, riset untuk transformasi digital dan kecerdasan buatan. Pengembangan AI, robotika, dan keamanan siber dinilai penting untuk menjawab kebutuhan di sektor pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik. "PTKIN jangan hanya menjadi pengguna teknologi. PTKIN harus ikut menjadi pencipta teknologi," tegasnya. Kelima, riset yang berujung pada hilirisasi dan kemaslahatan. Gagasan ini menekankan bahwa riset tidak boleh berhenti di jurnal dan seminar, melainkan harus berlanjut ke inovasi, produk, industri, hingga lapangan kerja.Inspirasi bagi Civitas Akademika
Bagi para mahasiswa yang hadir, kuliah umum ini memberikan perspektif baru. Wamenag mengingatkan bahwa seorang ilmuwan tidak cukup hanya bertanya "apakah sesuatu bisa dilakukan," tetapi juga harus bertanya "apakah sesuatu itu baik dilakukan, untuk siapa, dan untuk kemaslahatan apa."
Pesan ini menjadi pembeda antara lulusan PTKIN dengan lulusan perguruan tinggi umum pada umumnya. Integrasi ilmu, lanjutnya, bukan berarti memaksakan setiap rumus matematika memiliki ayat Al-Qur'an. Justru, wahyu memberikan arah, nilai memberikan batas, ilmu memberikan pengetahuan, dan teknologi memberikan kemampuan.
Menghubungkan Kampus dengan Lapangan Kerja Masa Depan
Para mahasiswa yang sedang merencanakan karier juga mendapat gambaran tentang sektor-sektor yang akan berkembang. Di luar lima agenda riset, Wamenag menyoroti tiga lapangan kerja masa depan yang perlu diperhatikan: energi terbarukan dan teknologi hijau, digitalisasi dan kecerdasan buatan, serta riset hilirisasi dan manufaktur berteknologi tinggi.
Pertanyaan yang diajukan pun bergeser dari "setelah lulus bekerja di mana" menjadi "setelah lulus, persoalan apa yang bisa saya selesaikan." Orang yang mampu menyelesaikan masalah, menurutnya, akan selalu dibutuhkan di pasar kerja.
Riset Harus Menjadi Ekosistem, Bukan Sekadar Publikasi
Kunci dari seluruh gagasan ini terletak pada perubahan cara pandang terhadap riset. Target akhirnya bukan lagi sekadar publikasi ilmiah, melainkan terbentuknya ekosistem yang utuh: riset, inovasi, produk, industri, lapangan kerja, dan pada akhirnya kemaslahatan masyarakat.
"Kampus harus menjadi bagian dari mesin transformasi Indonesia," ujar Wamenag. Dengan kata lain, kampus tidak boleh berjalan sendiri di menara gading, tetapi harus berdampingan dengan proses pembangunan nasional. Bagi para traveler yang tengah melintasi Bandung, menyaksikan langsung dinamika intelektual di kampus tertua di Jawa Barat ini bisa menjadi pengalaman tersendiri, menyaksikan bagaimana gagasan besar bangsa ini sedang dirumuskan dan dipersiapkan.