AMBON — Peringatan hari jadi Kota Ambon yang ke-451 tahun menjadi momentum bagi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa untuk menekankan pentingnya menjaga kota dari sisi holistik. Bukan sekadar bebas sampah di jalanan, melainkan juga tertib aturan dan memiliki kesadaran kolektif sebagai sesama warga.
Upacara peringatan berlangsung khidmat di Lapangan Merdeka Ambon pada Senin pagi. Mengusung tema "Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju", perayaan tahun ini diarahkan untuk merefleksikan tanggung jawab bersama atas wajah ibu kota provinsi tersebut.
Hendrik menegaskan bahwa persoalan kebersihan tidak bisa terus dibebankan kepada pemerintah ataupun petugas kebersihan di lapangan. Menurutnya, kota yang bersih harus lahir dari perilaku harian masyarakat yang menjadikan kebersihan sebagai kebutuhan, bukan paksaan.
"Saya ingin melihat Ambon yang bersih 'luar-dalam'. Bersih secara fisik di jalanan, sungai, hingga pantai, serta bersih secara mental yang dimulai dari kesadaran setiap individu untuk membuang sampah pada tempatnya dan tertib aturan," ujar Hendrik dalam sambutannya.
Pernyataan ini sekaligus menyoroti persoalan klasik di perkotaan, di mana fasilitas kebersihan kerap tersedia namun perilaku warga belum berubah. Gubernur mengajak kebiasaan baik dimulai dari unit terkecil, yakni rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Sebagai ibu kota Provinsi Maluku, posisi Ambon dinilai jauh lebih penting ketimbang sekadar pusat pemerintahan dan denyut aktivitas ekonomi. Kondisi kota ini menjadi penilaian pertama bagi siapa pun yang datang ke Maluku, baik untuk urusan bisnis maupun pariwisata.
Oleh karena itu, citra Ambon yang bersih dan tertib akan berdampak langsung pada wajah Maluku secara keseluruhan. Kebersihan di ruang publik seperti pasar, terminal, dan kawasan pesisir menjadi indikator sederhana yang mudah diamati oleh pendatang.
Hendrik berharap peringatan hari jadi tahun ini tidak berhenti sebagai seremoni belaka. Ia mendorong seluruh elemen, mulai dari aparatur sipil negara (ASN) hingga pelajar, untuk menjadi teladan dalam menjaga lingkungan masing-masing.
Meski seruan moral menjadi pesan utama, publik menantikan langkah kebijakan yang menyertainya. Penguatan peran kelurahan dan RT/RW dalam pengelolaan sampah berbasis sumber, misalnya, bisa menjadi salah satu terobosan yang perlu didorong setelah perayaan ini usai.
Koordinasi antara Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku juga diperlukan agar program kebersihan tidak tumpang tindih. Dengan sinergi tersebut, target menjadikan Ambon sebagai kota yang benar-benar bersih dari dalam diri warganya bukan sekadar slogan di spanduk peringatan.