MALUKU — Putaran investasi terbaru ini dipimpin oleh Nimble Ventures, dengan partisipasi dari Calculus Venture Capital, Entrepreneur First, LM Capital, serta Lockheed Martin Ventures. Total dana yang berhasil dikumpulkan CloudNC sejak berdiri kini mencapai $128 juta (sekitar Rp 2,1 triliun).
Pendanaan besar ini menjadi sinyal kepercayaan investor terhadap masa depan otomatisasi manufaktur, terutama di tengah kelangkaan tenaga kerja terampil dan tren reshoring industri di Amerika Serikat.
CAM Assist adalah perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu para programmer dan operator mesin CNC (Computer Numerical Control). Teknologi ini bekerja dengan cara menempel pada sistem CAM tradisional seperti Autodesk Fusion atau Mastercam.
Dalam proses pemesinan CNC, seorang programmer harus menentukan berbagai keputusan kompleks sebelum komponen bisa dipotong. Mulai dari cara benda kerja dijepit, hingga jenis alat potong yang tepat. CAM Assist mengotomatisasi tahap awal ini dengan memilihkan tool yang sesuai, menentukan arah pemotongan, serta mengatur kecepatan dan umpan mesin.
"Sistem CAM tradisional memang kuat, tetapi dalam banyak alur kerja, sistem tersebut masih menjadi alat yang mengharuskan programmer menentukan secara manual bagaimana sebuah komponen harus dikerjakan," ujar Theo Saville, salah satu pendiri sekaligus CEO CloudNC.
Saville menekankan bahwa CAM Assist tidak dimaksudkan untuk menggantikan keahlian manusia. Justru sebaliknya, perangkat lunak ini berperan sebagai asisten yang mengerjakan pemikiran awal dan pengaturan berulang, sehingga manusia bisa fokus meninjau, memperbaiki, dan menyetujui hasil akhir.
Saat ini, lebih dari 1.000 bengkel mesin di seluruh dunia telah menggunakan CAM Assist. Sekitar 80 persen pangsa pasar perusahaan berasal dari Amerika Serikat, mencakup produsen skala besar maupun bengkel kecil. Dengan tim berjumlah 80 karyawan, CloudNC menargetkan adopsi yang lebih luas sebagai prioritas utama.
Dana segar ini akan dialokasikan untuk memperkuat operasional go-to-market, ekspansi ke pasar baru, dan pengembangan produk berikutnya bernama Quote Agent. Produk ini dirancang untuk membantu bengkel menilai estimasi biaya dan risiko proyek baru dengan lebih cepat, sehingga mereka bisa memutuskan menerima atau menolak pekerjaan lebih efisien.
Quote Agent dijadwalkan meluncur pada bulan depan. Saville menghubungkan kebutuhan ini dengan kondisi geopolitik, di mana banyak bengkel mesin AS berupaya membawa pulang produksi (reshoring) sementara jumlah pekerja terampil terus menipis.
"Bengkel mesin perlu membuat penawaran lebih cepat, memprogram lebih cepat, dan menghasilkan lebih banyak dengan orang serta mesin yang sudah mereka miliki," jelas Saville.
CloudNC didirikan Saville bersama Chris Emery pada 2015. Emery kini menjabat sebagai chief science officer. Putaran pendanaan terakhir perusahaan sebelum ini terjadi empat tahun lalu, menjadikan momentum 2024 sebagai waktu yang tepat untuk kembali menggalang modal.
Fokus perusahaan pada otomatisasi proses CNC bukan tanpa alasan. Industri ini menghadapi tantangan unik: kompleksitas variasi cara pemesinan sebuah komponen dinilai sangat tinggi. CloudNC mengklaim telah menghabiskan bertahun-tahun meneliti masalah ini melalui pabrik percobaan milik sendiri dan tim software internal.
"Ada lebih banyak cara untuk mengerjakan komponen CNC standar daripada jumlah atom di alam semesta. Kami telah bertahun-tahun menyerang masalah spesifik itu, dengan pabrik sendiri, tim perangkat lunak sendiri, dan banyak pelajaran berharga dari proses pemesinan nyata," pungkas Saville.
Bagi pelaku industri manufaktur Indonesia yang mulai menjajaki otomatisasi, perkembangan CloudNC menunjukkan arah masa depan sektor ini. Kombinasi antara kekurangan tenaga ahli dan kebutuhan efisiensi membuat perangkat lunak asistif seperti CAM Assist menjadi jembatan yang layak dipertimbangkan, terutama bagi bengkel yang ingin meningkatkan kapasitas tanpa menambah beban rekrutmen.