MALUKU — Asus ROG Kithara adalah headset gaming open back premium, hasil kerja sama Asus dengan HIFIMAN — produsen headphone audiophile yang dikenal lewat driver planar magnetic-nya. Klaimnya sederhana: suara detail dan soundstage lapang khas HIFIMAN, tapi dalam kemasan headset gaming. Setelah dipakai untuk gaming dan mendengarkan musik, klaim itu terbukti. Sayangnya, masalah klasik produk HIFIMAN ikut terbawa.
Kithara praktis adalah headphone open back HIFIMAN dengan branding Asus. Driver planar magnetic berukuran 100mm — lebih besar dari planar 90mm di Audeze Maxwell (USD 299), Maxwell 2 (USD 329), dan Maxwell 2 ANC (USD 449).
Karakter suaranya khas HIFIMAN dengan tuning gaming: mayoritas netral bergaya referensi, ditambah sedikit amplifikasi di ujung atas. Detail di high dan mid melimpah berkat transient response planar yang sangat cepat. Sebagai headset open back, soundstage-nya lebar dan spatial imaging-nya kuat.
Dalam Hell Let Loose dan Counter Strike 2, cue musuh seperti langkah kaki dan suara reload mudah dipinpoint. Tuning flat bikin headset ini tidak bassy, meski response range-nya sampai 8Hz. Ledakan di Hell Let Loose kurang berdampak dibanding SteelSeries Arctis Nova Pro Omni (USD 399) dan Audeze Maxwell 2. Tonal separation-nya kuat — setiap instrumen di soundtrack Total War: Rome II terdengar terpisah dan mudah dibedakan.
Kithara ditujukan untuk musik sekaligus gaming, dan paket aksesorinya mendukung itu. Ada kabel headphone tanpa mic untuk mendengarkan musik, plus tiga jack yang bisa ditukar: 3.5mm, balanced 4.4mm, dan 6.3mm. Asus bahkan menyertakan diagram frequency response individual hasil quality checking — hal yang wajar untuk headphone HIFIMAN.
Kithara adalah headset plug and play. Tanpa baterai, tanpa ANC, tanpa aplikasi pendamping. Fiturnya memang lebih sedikit dari Arctis Nova Pro Omni atau Maxwell 2, tapi tidak selalu buruk — kadang enak juga pakai headphone biasa yang ada mic-nya.
Bobotnya 14 ons / 420 gram dan saya tidak masalah memakainya berjam-jam. Earcup-nya sangat lembut dan empuk. Pad bawaan punya rim faux leather, tapi ada satu set tambahan yang seluruhnya velour dan lebih breathable. Soal tampilan, hitam dan gunmetal bikin headset ini terlihat stealthy dan tidak norak dibanding produk Asus lain seperti TUF H1 Gen II (USD 49) dan ROG Delta II (USD 229).
Asus belum mengonfirmasi sejauh mana HIFIMAN terlibat dalam pembuatan Kithara. Tapi dugaan kuat, HIFIMAN yang bikin seluruhnya lalu ditempeli branding Asus. Kesan pertama saat mengangkatnya: persis HIFIMAN. Dan itu bukan hal bagus.
HIFIMAN dikenal punya masalah build quality. Sundara yang populer bahkan berstatus frequently returned product di Amazon karena masalah headstrap. Kithara tidak berbeda. Head strap-nya dari leatherette tipis yang terasa murahan, persis Sundara. Headband-nya cuma sepotong logam tipis. Slider adjustment-nya terus melorot dari posisi yang sudah diatur.
Asus mengakui ini masalah dan bisa diatasi dengan T7 Torx driver. Tapi kenapa harus memperbaiki headset sendiri dari pabrik? Di harga USD 299, itu tidak bisa diterima. Ini kualitas HIFIMAN dengan harga Asus.
Mikrofon Kithara tidak buruk. Di panggilan tes dan game chat, tidak ada yang kesulitan memahami saya — penting sekali di Hell Let Loose yang komunikasi timnya vital. Tapi rekan kerja melaporkan suaranya cukup tinny dan kualitasnya rendah. Itu menyakitkan di harga USD 299, apalagi rival seperti Maxwell 2 dan Turtle Beach Stealth Pro II (USD 349) menawarkan mic sekelas broadcast hanya dengan tambahan USD 50. Kalau mau streaming, saya sarankan salah satu dari itu.
Desain open back bikin anda bisa mendengar sekitar. Dalam gameplay santai seperti Rome II, saya senang bisa mendengar salah satu anjing menggonggong atau istri memanggil dari lantai bawah. Saya dan istri bekerja di home office yang sama, jadi bisa mengobrol sambil gaming itu menyenangkan.
Tapi ada sisi buruknya. Di Hell Let Loose, suara interferensi halus dari garrison dan outpost musuh kadang sulit didengar, bikin saya mencari-cari buta dan mati. Ini hanya masalah saat jendela terbuka, tapi bisa menentukan di shooter yang cue musuhnya krusial. Suara juga jauh kurang imersif dibanding closed back — ledakan dan peluru di Hell Let Loose terasa lebih intens dan menakutkan di Fractal Design Scape.
Ini bukan kekurangan. Kalau anda mau suara lapang, detail, dan lembut plus gaming di lingkungan tenang, tidak masalah. Kalau mau isolasi penuh dan imersi, closed back dengan ANC jawabannya — meski biasanya lebih mahal, seperti Arctis Nova Pro Omni (USD 399), Audeze Maxwell 2 ANC (USD 429), dan SteelSeries Arctis Nova Elite (USD 599).
Kithara headset yang sangat bagus. Suaranya detail dan lapang, cocok untuk pencinta headphone open back yang mau pengalaman serupa saat gaming. Bagus juga untuk musik, ringan, nyaman, dan tidak ribet.
Tapi build quality-nya buruk dan miknya kurang berkualitas — dua hal yang tidak layak di harga USD 299. Di pasar yang punya Sony Inzone H6 Air (USD 199) dengan suara open back lapang, build quality premium, dan mic excellent, sulit merekomendasikan Kithara di harga penuh. Kalau memang harus punya planar magnetic open back, saran saya beli Torx driver dan tunggu diskon.