AMBON — Kapolda Maluku Irjen Pol Prof. Dr. Dadang Hartanto menilai kekuatan utama Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya terletak pada jumlah personel. Kemampuan membangun kedekatan dan kepercayaan dengan warga menjadi kunci. Karena itu, ia mendorong penguatan program Polima dan Baileo Emarina di seluruh jajaran.
Arahan tersebut disampaikan saat memimpin Rapat Koordinasi Anev Kamtibmas di Ruang Command Center Polda Maluku. Rapat diikuti Pejabat Utama Polda Maluku, Kapolres, dan Kapolsek jajaran melalui konferensi video. Kapolda menyoroti pentingnya mengubah pola kerja kepolisian dari sekadar merespons kejadian menjadi lebih proaktif.
Dalam rapat itu, Kapolda menegaskan posisi Polsek sebagai ujung tombak kepolisian di tingkat kewilayahan. Polsek dinilai strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat sekaligus menjadi basis fungsi Binmas dan intelijen.
"Polsek harus diperkuat karena Polsek adalah basis Binmas dan intelijen. Peran Bhabinkamtibmas dan Polima serta baileo Emarina harus benar-benar dikedepankan sehingga personel di wilayah memiliki kewibawaan dan dihargai masyarakat sebagai tokoh yang bisa diandalkan," kata Dadang.
Menurut Kapolda, kedekatan polisi dengan warga harus diperkuat. Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat bisa proaktif kepada polisi jika tidak mengenal petugas yang bertugas di wilayahnya. Karena itu, Polima dan sambang Binmas harus benar-benar dijalankan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi menyebut penguatan Polima, Baileo Emarina, dan Polsek merupakan bagian dari strategi membangun kepolisian yang semakin dekat dengan masyarakat.
"Polima dan Baileo Emarina harus menjadi ruang interaksi yang nyata antara Polisi dan masyarakat. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga mendengar persoalan, membangun komunikasi dan mencari solusi bersama. Kedekatan seperti inilah yang menjadi modal penting dalam mencegah konflik," ujar Rositah.
Melalui program itu, personel di wilayah diharapkan tidak hanya hadir secara fisik. Mereka juga dituntut mendengar persoalan warga, membangun komunikasi, dan mencari solusi bersama. Kedekatan semacam itu dinilai menjadi modal penting dalam mencegah konflik sosial di Maluku.
Kapolda menempatkan Polsek sebagai basis pembinaan masyarakat sekaligus deteksi dini potensi konflik. Pola kerja proaktif diharapkan membuat jajaran kepolisian di kewilayahan mampu membaca persoalan sebelum berkembang menjadi gangguan Kamtibmas.
Penguatan peran Bhabinkamtibmas dan Polima menjadi bagian dari strategi tersebut. Personel di wilayah didorong memiliki kewibawaan dan dihargai masyarakat sebagai tokoh yang bisa diandalkan. Dengan begitu, deteksi dini tidak hanya bergantung pada laporan warga, tetapi juga pada kedekatan yang terbangun sehari-hari.