MALUKU — Google secara resmi memperkenalkan Googlebook, sistem operasi laptop baru yang menggantikan ChromeOS dan diposisikan untuk pengguna Android premium. Perangkat ini akan diproduksi Lenovo, Dell, Acer, dan ASUS dengan dukungan chip Intel, Qualcomm, dan AMD, serta hadir di pasar awal bulan depan. Googlebook menyasar pengguna yang ingin merasakan integrasi ekosistem ala Apple tanpa meninggalkan keterbukaan Android.
Googlebook menandai pergeseran strategi Google di segmen laptop setelah bertahun-tahun mengandalkan ChromeOS. Sistem operasi anyar ini tidak dibuat sendiri oleh Google, melainkan diserahkan ke mitra manufaktur yang sudah lama memproduksi Chromebook.
Langkah ini mengulang pola yang pernah dipakai Google saat membangun Android lewat kerja sama dengan LG, Samsung, dan Huawei. Bedanya, kali ini Google ingin menyasar segmen premium yang selama ini didominasi macOS dan Windows.
Googlebook akan diproduksi oleh Lenovo, Dell, Acer, dan ASUS. Untuk dapur pacu, Google menggandeng Intel dan Qualcomm, dengan AMD menyusul di tahap berikutnya.
Google sendiri tidak merilis perangkat keras buatan sendiri untuk lini ini. Posisinya murni sebagai vendor perangkat lunak dan AI, sama seperti peran yang dijalankan di ekosistem Chromebook sebelumnya.
Fitur utama yang diunggulkan adalah Gemini Intelligence, yang sudah disinggung sejak awal pengumuman Googlebook. Google memposisikan perangkat ini sebagai tempat terbaik untuk berinteraksi dengan Gemini.
Asisten AI tersebut kini merambah ke berbagai lini produk Google dengan kemampuan agentic yang makin luas. Untuk menarik kalangan developer, Google menyertakan aplikasi Antigravity native plus langganan Google AI Pro selama 12 bulan.
Paket langganan itu mencakup kredit coding dalam jumlah signifikan, sehingga Googlebook juga diarahkan ke pengguna yang aktif menulis kode atau menjalankan proyek vibe-coding.
ChromeOS selama ini identik dengan perangkat murah, terutama di sektor pendidikan. Google beberapa kali mencoba membangun hardware premium di atas ChromeOS, tetapi upaya itu tidak pernah benar-benar mengubah persepsi pasar.
Di sisi ponsel, Google berhasil melepas citra budget lewat lini Pixel, meski sebagian besar kerja berat dilakukan Samsung. Googlebook kini mencoba mengulang keberhasilan itu di segmen laptop.
Pertanyaannya, apakah integrasi ekosistem yang ditawarkan benar-benar menambah nilai seperti yang sudah dibuktikan Apple lewat iOS dan macOS. Ada juga kekhawatiran soal rekam jejak Google yang kerap menghentikan produk yang terlihat sehat.
Googlebook akan mulai dijual di pasar global pada awal bulan depan. Google belum mengumumkan harga resmi per varian dalam pengumuman ini.
Ketersediaan di Indonesia juga belum disebutkan. Mengingat Chromebook sempat masuk pasar lokal lewat jalur pendidikan dan ritel, ada peluang Googlebook menyusul, tetapi itu bergantung pada kesiapan mitra manufaktur.
Ada beberapa kemungkinan target pengguna. Pertama, pengguna Android yang ingin menyatukan ponsel dan laptop dalam satu ekosistem. Kedua, penggemar ChromeOS yang menginginkan integrasi lebih dalam dengan perangkat mobile.
Ketiga, kalangan developer dan pengguna teknis yang tertarik pada aplikasi Antigravity serta kredit coding dari Google AI Pro. Google tampaknya ingin menjangkau ketiganya sekaligus.
Yang jelas, Googlebook bukan sekadar penerus Chromebook. Ini upaya Google mengunci loyalitas miliaran pengguna Android ke perangkat kerja mereka, dengan Gemini sebagai perekat utamanya.