BMKG Waspadai Puncak Musim Hujan Februari 2027 di Maluku, 140 Zona Musim Terdampak

Penulis: Ujang Rahmat  •  Rabu, 23 September 2026 | 06:16:01 WIB
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramadhani memaparkan prakiraan puncak musim hujan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

JAKARTA — Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramadhani memaparkan bahwa porsi puncak musim hujan akan terkonsentrasi rapat pada tiga bulan tersebut. Meski durasi musimnya relatif pendek, ia menyebut curah hujan akumulasi umumnya normal. Kondisi itu yang dinilai perlu diwaspadai.

“Meskipun durasi musim hujannya relatif pendek, curah hujan akumulasinya umumnya normal. Nah ini yang perlu diwaspadai. Jadi bisa saja hujan nanti jatuh secara intens di bulan-bulan tersebut dan untuk wilayah-wilayah yang secara historikal terjadi bencana hidro-meteorologi basah, itu perlu diwaspadai,” kata Andri dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Maluku Masuk Puncak Hujan Februari 2027

Sebaran puncak musim hujan bergerak bertahap antarwilayah. Pada Desember 2026, puncak hujan melanda 155 Zona Musim (ZOM) yang meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi bagian utara.

Memasuki Januari 2027, puncak hujan bergeser ke 162 ZOM yang mencakup hampir seluruh Pulau Jawa, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan bagian barat, hingga sebagian besar Papua.

Pada Februari 2027, sebanyak 140 ZOM diperkirakan mengalami puncak musim hujan. Wilayahnya terkonsentrasi di Sulawesi bagian tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua bagian selatan.

Ancaman Banjir dan Longsor di Wilayah Topografi Curam

BMKG mencatat ancaman banjir dan tanah longsor berpotensi tinggi melanda daerah bertopografi curam dan wilayah rawan historis. Titik yang dipantau antara lain sepanjang Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat dan Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, pesisir barat Sumatera, Sumatra Utara, dan Aceh.

Pergerakan indeks Dipole Mode ke arah positif di Samudra Hindia juga terus dipantau ketat. Fenomena itu disebut dapat menambah intensitas curah hujan, terutama untuk wilayah Sumatra.

Mengapa Durasi Pendek Justru Perlu Diwaspadai

Musim hujan yang lebih singkat bukan berarti risiko berkurang. Hujan yang jatuh intens dalam rentang waktu rapat bisa memicu genangan, banjir, dan longsor di wilayah yang secara historis pernah terdampak.

Bagi warga Maluku, imbauan ini relevan terutama di kawasan pesisir dan lereng curam yang drainasenya terbatas. Pemantauan cuaca harian dari BMKG menjadi rujukan utama sebelum aktivitas luar ruang.

BMKG menyatakan terus memperketat pengawasan di sejumlah daerah rawan bencana hidro-meteorologi basah selama periode puncak musim hujan tersebut.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: terasmaluku.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top