MALUKU — Film "Tenzing" menjadi pembuka Zurich Film Festival dengan mengangkat kisah pendaki Himalaya legendaris Tenzing Norgay sebagai tokoh utama. Disutradarai Jennifer Peedom, film ini menampilkan Genden Phuntsok sebagai Tenzing, didampingi Tom Hiddleston yang berperan sebagai Edmund Hillary. Apple Original memproduksi film yang berupaya mengembalikan subjektivitas Tenzing dalam sejarah pendakian Everest 1953.
Jennifer Peedom menyutradarai "Tenzing" dengan misi mengembalikan Tenzing Norgay ke pusat narasi pendakian Everest 1953. Selama puluhan tahun, kisah pendakian pertama ke puncak tertinggi dunia itu kerap disederhanakan menjadi cerita Edmund Hillary yang dibantu seorang Sherpa.
Peedom menolak penyederhanaan itu. Menurutnya, Tenzing memiliki pengalaman Everest lebih banyak dibanding siapa pun dalam ekspedisi 1953. Ia bukan sekadar membantu orang lain meraih mimpi, karena Tenzing punya mimpi sendiri.
"Tenzing" dibintangi Genden Phuntsok sebagai Tenzing Norgay. Tom Hiddleston berperan sebagai Edmund Hillary, sementara Thinley Lhamo, Caitríona Balfe, dan Willem Dafoe melengkapi jajaran pemain. Dafoe memerankan Kolonel John Hunt.
Peedom mengungkap alasan memilih Phuntsok. Ia membutuhkan aktor dengan kedalaman emosi, kekuatan fisik, kehangatan, humor, sekaligus wibawa yang tenang. Tenzing bukan karakter yang mengumumkan semua perasaannya.
"He has this extraordinary, contained force. Culturally, there were things he understood because he grew up on the Tibetan Plateau, at altitude, in a landscape and culture with real connections to Tenzing's own world," kata Peedom.
Ia juga menyoroti pertemuan tiga aktor dengan latar belakang akting berbeda. Genden, Tom, dan Willem bertemu sebagai setara di dalam dunia film.
Peedom tertarik pada perjuangan Tenzing jauh sebelum ia mencapai puncak. Ia pertama kali mencoba bergabung dengan ekspedisi pada 1933, tetapi baru mendapat kesempatan pada 1935 sebagai porter.
Selama dua dekade berikutnya, Tenzing membangun pengalaman dan reputasi. Pada 1953, ia menjadi salah satu pendaki Everest paling berpengalaman di dunia.
"We tend to focus on the final achievement, but the obstacles he had to overcome just to get to the starting line were immense," ujar Peedom.
Ia menilai perjalanan itu sangat menyentuh. Tenzing bukan orang yang diberi kesempatan lalu membuktikan diri di gunung, melainkan harus memperjuangkan kesempatan itu sejak awal.
Peedom lama menyoroti kontribusi Sherpa yang sering diabaikan. Ia membuat film pendek "The Sherpas' Burden" dan dokumenter "Sherpa". "Tenzing" menjadi bab lanjutan dari eksplorasi yang sama.
Ia menyoroti ketidakseimbangan besar dalam narasi pendakian. Sherpa mengerjakan sebagian besar pekerjaan penting, mulai dari membawa beban, memasang tali, mendirikan kamp, hingga berulang kali melintasi medan paling berbahaya.
"These were elite mountaineers, often with multiple Everest summits [under their belts], doing some of the most dangerous and skilled work. Yet, outside of Nepal, almost nobody knew their names," tegasnya.
Peedom yang dikenal lewat karya dokumenter merasa kisah Tenzing menuntut pendekatan berbeda. Banyak perjalanan Tenzing bersifat internal, soal iman, keluarga, ambisi, dan identitas.
"Documentary could tell me what happened, and I had spent years gathering that history, but drama allowed us to get closer to what those experiences might have felt like," jelasnya.
Peedom menekankan sisi spiritual dalam perjalanan Tenzing. Tenzing beragama Buddha dan gunung memiliki makna spiritual baginya. Sebagai anak lelaki, ia menggembalakan yak milik ayahnya di dataran tinggi Tibet di bawah Everest.
Saat akhirnya mencapai puncak, Tenzing berdoa dan meninggalkan persembahan. Peedom melihat perjalanan itu sebagai semacam pulang ke rumah.
Dalam banyak kisah pendakian Barat, gunung diposisikan sebagai lawan yang harus dikalahkan. Bagi Tenzing, hubungan itu jauh lebih kompleks, ada ambisi sekaligus rasa hormat.
Film ini juga menyentuh pertanyaan rumit soal identitas. Setelah Everest, identitas Tenzing menjadi politis dan berbagai negara ingin mengklaimnya. Namun film berakhir sebelum babak itu dimulai.
Peedom memilih menutup cerita saat Tenzing turun dari gunung. "Tenzing" tayang perdana di Zurich Film Festival sebagai produksi Apple Original, menandai upaya sinema internasional menempatkan pendaki Sherpa sebagai protagonis dalam kisah hidupnya sendiri.