MALUKU — Alejandro González Iñárritu mengakui Digger bukan film yang sempurna setelah debut box office-nya mengecewakan. Film berbiaya US$160-180 juta itu hanya meraup US$8 juta di Amerika Utara dan US$12 juta dari pasar internasional pada pekan pembukaan. Sutradara peraih Oscar tersebut menyebut dirinya memang suka mengambil risiko dan sudah menduga sebagian penonton tidak akan menyukainya.
Digger resmi tayang 1 Oktober 2026 dengan ekspektasi tinggi berkat nama besar Alejandro González Iñárritu di kursi sutradara dan Tom Cruise sebagai bintang utama. Namun hasil pekan pembukaan jauh dari harapan. Film itu hanya mengumpulkan US$8 juta di Amerika Utara, sementara pasar internasional menyumbang US$12 juta.
Dengan total perolehan global baru US$20 juta, Digger baru mengembalikan sekitar 12 persen dari bujet produksinya. Angka itu jauh di bawah proyeksi awal yang memperkirakan pendapatan pembukaan bisa mencapai US$18-20 juta di Amerika Utara saja.
Di Rotten Tomatoes, Digger mencatat skor 51 persen dari kritikus. Penonton non-kritikus justru memberi penilaian lebih baik dengan 71 persen ulasan positif. Pola serupa muncul di Metacritic, di mana kritikus memberi skor 46/100 sementara pengguna mencatatkan 66/100.
Iñárritu menanggapi rendahnya penilaian kritikus dengan santai. Ia mengaku lebih memilih kontroversi ketimbang sambutan yang biasa-biasa saja.
"Saya lebih memilih hal itu daripada sambutan yang biasa-biasa saja," ujar Iñárritu kepada The New York Times, seperti diberitakan Entertainment Weekly.
"Film ini tidak sempurna. Saya suka mengambil risiko. Menurut saya, ini jelas film yang tidak biasa. Ini film yang memancing pemikiran," katanya menambahkan.
Bagi sutradara yang pernah meraih Oscar lewat Birdman dan The Revenant ini, film bukan sekadar hiburan. Ia menyebut Digger sebagai upaya membuka percakapan tentang kondisi dunia saat ini.
"Bagi saya, itulah peran sebuah film—mari kita mulai percakapan. Selera pribadi saya adalah film-film yang mencoba menyampaikan sesuatu dengan cara yang berbeda," ujarnya.
Iñárritu juga menyadari bahwa tidak semua penonton menginginkan narasi yang menantang. "Ada orang-orang yang menginginkan kepastian lebih dalam penceritaan, dan itu pun tidak masalah. Film ini bukan seperti es krim. Jadi, ya, sejujurnya kami sudah menduga hal itu," katanya.
Dalam wawancara tersebut, Iñárritu menyebut Digger sebagai film bencana dengan bencana yang dimaksud adalah manusia itu sendiri. Ia menyoroti keindahan dunia dan keseimbangan ekosistem yang menurutnya luar biasa.
"Jika kita bisa berkumpul di ruangan yang sama, dalam realitas yang sama, dan memahami posisi kita dalam narasi ini, menurut saya itu memberikan harapan," ucapnya.
Dengan performa yang jauh di bawah ekspektasi, Digger diprediksi merugi setidaknya US$150-200 juta atau sekitar Rp2,6-3,5 triliun dari penayangan bioskop. Angka tersebut dihitung dengan asumsi kurs US$1 setara Rp17.937.
Kombinasi nama Cruise dan Iñárritu seharusnya cukup untuk mendorong pendapatan awal ke angka yang lebih tinggi. Keduanya punya rekam jejak komersial dan kritis yang kuat di Hollywood, tetapi kali ini keduanya tidak mampu menarik penonton ke bioskop pada pekan pertama.
Hasil ini menjadi catatan tersendiri di kalender rilis akhir tahun, ketika studio biasanya mengandalkan film berbiaya besar untuk mendongkrak pendapatan kuartal terakhir.