MALUKU — Petani Bolivia bernama Eston Machaca memproduksi 80–150 liter bahan bakar per hari dari sampah plastik, ban bekas, dan oli bekas untuk menggerakkan traktornya. Biaya bahan bakar hasil pirolisis itu hanya separuh harga solar pasar di Bolivia yang menembus 18 boliviano per liter. Machaca tidak menjual hasilnya, murni dipakai sendiri untuk menyambut musim tanam.
Fasilitas pengolahan milik Machaca berada di Ancocala, sekitar 22 mil (35 kilometer) dari La Paz, di kawasan Altiplano Bolivia. Metode yang dipakai adalah pirolisis, yakni pemanasan material pada suhu tinggi di lingkungan minim oksigen hingga terurai menjadi gas yang bisa dibakar.
Gas hasil penguraian itu kemudian didistilasi dan dimurnikan lebih lanjut menjadi bahan bakar yang layak pakai untuk kendaraan. Reuters melaporkan langkah Machaca sebagai respons atas mahalnya solar di negaranya.
Bolivia mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan solar dalam negerinya. Harga di pasar kini berada di 18 boliviano atau sekitar 1,54 dolar AS per liter, setara kurang lebih 6 dolar AS per galon.
Kenaikan itu disebut sebagai harga "masa perang" yang turut dipicu konflik Iran. Dampaknya terasa di kedua belahan bumi: satu wilayah menutup musim panen, wilayah lain bersiap memasuki musim tanam.
Machaca memanfaatkan kantong plastik, ban karet bekas, dan oli bekas sebagai bahan mentah. Dari situ ia menghasilkan 80 hingga 150 liter bahan bakar siap pakai setiap hari, atau sekitar 21 sampai 40 galon.
Hasil produksinya tidak dijual ke pihak lain. Seluruhnya dialirkan ke tangki traktor yang dipakai menggarap lahan. Biaya produksinya berada di kisaran 7 sampai 10 boliviano per liter, atau 0,60 hingga 0,86 dolar AS per liter.
Angka itu setara sekitar 2,31 sampai 3,31 dolar AS per galon, nyaris separuh dari harga solar pasar. Bagi petani di kawasan dengan musim tanam pendek, selisih biaya sebesar itu menentukan apakah lahan bisa digarap atau dibiarkan.
Bahan bakar hasil pirolisis bukan substitusi sempurna untuk solar murni. Meski begitu, laporan Reuters menyebut hasilnya cukup untuk menjalankan traktor dan menghemat pengeluaran secara signifikan.
Proses serupa pernah diuji sejumlah pihak lain. Kanal YouTube Garage 54 membuat alat distilasi pirolisis sederhana dan menguji bahan bakar dari ban bekas pada sebuah Lada tua, dengan hasil yang berfungsi cukup baik.
Machaca bukan satu-satunya yang berimprovisasi menghadapi kelangkaan dan mahalnya bahan bakar. Di Rusia, sebagian pemilik kendaraan mengonversi mobilnya agar bisa memakai LPG.
Di Kuba, kendaraan dialihkan ke tenaga listrik di tengah antrean panjang dan sistem lotre bahan bakar yang tak kunjung membaik. Adopsi kendaraan listrik di Eropa juga terus naik sebagai jawaban atas harga bahan bakar yang mahal.
Di Amerika Serikat, dampak paling terasa baru sebatas kebijakan solar berwarna di Texas. Namun tekanan harga global membuat langkah-langkah kreatif seperti yang ditempuh Machaca makin mungkin ditiru di tempat lain.