MALUKU — Nvidia RTX Spark resmi menjadi System on a Chip pertama perusahaan, menggabungkan CPU hingga 20 core dengan GPU Blackwell RTX berkonfigurasi sampai 6.144 CUDA core. Chip berbasis ARM ini menjanjikan satu perangkat untuk kerja kreatif, gaming, dan AI lokal, dan sudah lebih dulu dipakai di laptop Asus ProArt P16.
Pengujian selama lebih dari sepekan menunjukkan RTX Spark N1X sanggup menangani beban campuran tanpa bergantung penuh pada komputasi awan. Konfigurasi tertingginya memadukan CPU 20 core dengan GPU Blackwell 6.144 CUDA core, sementara varian dasar memakai CPU 18 core dan GPU 5.120 CUDA core.
Pendekatan ini menempatkan Nvidia berhadapan langsung dengan lini Apple M series. Bedanya, Nvidia menambahkan GPU Blackwell diskret ke dalam paket SoC, sehingga beban grafis tidak lagi bergantung pada GPU terintegrasi biasa.
Pada Geekbench 7.1, chip N1X mencatat skor single-core 2.623 dan multi-core 21.899. Angka single-core masih di bawah Apple M5 yang mencapai 4.288, tetapi skor multi-core melampaui M5 di 17.926.
Untuk tugas kreatif, PugetBench mencatat skor 11.801 di Photoshop dengan durasi 10,83 menit, serta 76.234 di Premiere Pro dalam 8,12 menit. Apple M5 mencatat 13.755 dan 69.887 pada pengujian serupa, unggul di olah foto tetapi tertinggal di pekerjaan video.
Uji file Photoshop 4K 300dpi berlapis banyak tetap selesai di bawah satu detik, sedangkan pengecilan gambar setengah ukuran memakan sekitar lima detik. Nvidia juga mengklaim kolaborasi dengan Adobe menghadirkan pemrosesan AI, editing, warna, dan efek dua kali lebih cepat di laptop RTX Spark.
RTX Spark mendukung alur kerja AI hibrida: pengguna memilih model lokal untuk data sensitif, lalu melemparkan tugas berat ke model frontier di cloud. Pendekatan ini memberi kendali lebih rinci atas lalu lintas data dibanding memilih antara serba lokal atau serba cloud.
Pada benchmark MLPerf Client dengan model lokal Qwen 3 8B, simulasi alur data analyst berjalan rata-rata 63,7 detik dan memproses hingga 14.005 token. Simulasi SWE agent selesai 50,8 detik dengan 10.238 token.
Pengujian ComfyUI mencatat generasi gambar Flux2.Dev NVFP4 dalam 46,5 detik, Flux2.Klein 4B Base 16,2 detik, dan video LTX 2.5 Distilled NVFP4 selama 88 detik. Agen Hermes dengan model Qwen3.8 27B butuh 12 menit untuk merapikan spreadsheet CSV, menganalisis data, dan menyusun pivot table tanpa data keluar dari laptop.
Sebagian besar game masih dibangun untuk arsitektur x86, tetapi sejumlah pengembang merilis versi native RTX Spark saat peluncuran 16 Oktober, termasuk Cyberpunk 2077, Doom: The Dark Ages, dan 007 First Light. Seri Call of Duty dijadwalkan menyusul pada 2027, sementara judul lain bisa dijalankan lewat emulasi Prism dengan sedikit penurunan performa CPU.
Skor 3DMark Port Royal mencapai 8.133, Steel Nomad 2.846, dan Speed Way 2.872. Angka ini di bawah Asus Zephyrus G14 dengan RTX 5070 Ti yang mencatat 10.119, 3.488, dan 4.031, tetapi jauh di atas laptop GPU terintegrasi seperti Dell XPS 16 pra-RTX Spark di 3.888, 1.488, dan 916.
Di pengujian dalam game, Cyberpunk 2077 berjalan 30,16 fps pada 1080p Ray Tracing Ultra dan menembus 60 fps saat diturunkan ke Medium. Doom: The Dark Ages rata-rata 48,58 fps di 1080p, mendekati Asus TUF Gaming A14 dengan RTX 5060 di 32,33 fps dan 55,63 fps. Gears of War: E-Day tetap di atas 115 fps pada preset Ultra.
Sebagai pembanding, MacBook Pro M5 hanya mencapai 11,5 fps di Cyberpunk 2077 Ray Tracing Ultra. Kesenjangan ini menjelaskan posisi RTX Spark: bukan pesaing laptop gaming kelas atas, melainkan SoC serbaguna untuk pengguna yang butuh AI lokal, kerja kreatif, dan gaming dalam satu mesin ringkas.
Laptop RTX Spark paling relevan bagi kreator konten, pengembang, dan pekerja AI yang sering menangani data sensitif. Gamer kompetitif yang mengejar frame rate tertinggi sebaiknya tetap melirik laptop dengan GPU diskret terpisah.