LANGGUR — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara tengah merancang pembelajaran berbasis budaya Kei untuk diterapkan di seluruh jenjang pendidikan pada 2027. Materi akan diberikan secara berjenjang, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, dengan menyesuaikan tingkat perkembangan peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara Raudah bin Arif Hanoeboen menyebut penguatan pendidikan berbasis budaya sebagai langkah menjaga identitas masyarakat Kei. Menurutnya, kurikulum tersebut akan memuat hukum adat Larvul Ngabal, cerita rakyat, serta berbagai tradisi masyarakat Kei.
Pemkab Maluku Tenggara menargetkan tiga pilar utama dalam muatan lokal tersebut. Selain hukum adat Larvul Ngabal, siswa akan dikenalkan pada filosofi Ain Ni Ain yang menekankan hubungan kekeluargaan dan gotong royong antarwarga.
Bahasa daerah Kei juga masuk dalam rencana pembelajaran, bersama cerita rakyat dan tradisi lisan masyarakat Kepulauan Kei. Raudah berharap materi ini tidak berhenti di ruang kelas, tetapi mendorong penerapan nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
"Budaya Kei, hukum adat Larvul Ngabal, dan filosofi Ain Ni Ain harus diwariskan kepada generasi muda agar tetap terjaga dan tidak tergerus perkembangan zaman," ujar Raudah seusai mengikuti Karnaval Budaya dalam rangkaian Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026 di Landmark Kota Langgur, Senin (19/10/2026).
Raudah menyoroti kondisi yang lebih mendesak: masih ada anak-anak yang tinggal di desa tetapi belum mampu berbahasa Kei sebagai alat komunikasi sehari-hari. Temuan itu dinilainya menunjukkan pelestarian budaya tidak cukup mengandalkan kegiatan seremonial.
Menurut Raudah, keluarga dan lingkungan masyarakat memegang peran utama membiasakan anak menggunakan bahasa daerah. Sekolah, katanya, hanya memperkuat pemahaman melalui pembelajaran yang terstruktur.
"Bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas kita. Karena itu, perlu ada upaya bersama agar generasi muda tetap mengenal dan menggunakan bahasa Kei dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Pelestarian budaya Kei juga berjalan lewat keterlibatan pelajar dalam Festival Pesona Meti Kei 2026 yang berlangsung 19–24 Oktober 2026. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Maluku Tenggara untuk melibatkan satuan pendidikan.
Karnaval Budaya pada Senin (19/10/2026) diikuti 60 regu dari jenjang TK hingga SMP di wilayah daratan Pulau Kei Kecil. Pelajar juga terlibat dalam Lomba Goyang Meti Kei dan persiapan pertunjukan kolosal di puncak festival.
"Kami bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merencanakan penampilan sekitar 3.000 hingga 4.000 penari pada puncak FPMK," ujar Raudah.
Pertunjukan kolosal dijadwalkan berlangsung Sabtu (24/10/2026) sebagai daya tarik utama festival. Raudah menyebut kegiatan itu sekaligus menjadi wadah partisipasi generasi muda dalam pelestarian budaya daerah.
Rangkaian FPMK diharapkan memperkuat kebanggaan warga terhadap identitas budaya Kei. Pemkab Maluku Tenggara juga menargetkan promosi pariwisata daerah kepada wisatawan nusantara dan mancanegara.
Penerapan kurikulum muatan lokal pada 2027 dan keterlibatan pelajar dalam festival menjadi dua jalur yang disiapkan Pemkab Maluku Tenggara. Nilai-nilai Larvul Ngabal, filosofi Ain Ni Ain, serta kekayaan bahasa dan tradisi Kei ditargetkan tetap diwariskan ke generasi berikutnya.