MALUKU — Laporan Wellcome Global Monitor 2026 menempatkan Indonesia di urutan ke-52 dari 140 negara soal kepercayaan terhadap sains, dengan hanya 20,1 persen responden yang menyatakan sangat percaya. Survei yang melibatkan lebih dari 140.000 responden sepanjang 2025 itu mengukur proporsi warga berusia 15 tahun ke atas yang menaruh kepercayaan tinggi pada ilmu pengetahuan. Posisi Indonesia tertinggal dari Filipina, Singapura, dan Vietnam, meski masih di atas Malaysia dan Thailand.
Survei berlangsung sepanjang 2025 dengan lebih dari 140.000 responden. Laporan tidak menyusun daftar negara paling tidak percaya sains secara eksplisit, tetapi urutan terbalik dari peringkat tertinggi memperlihatkan kelompok negara dengan tingkat kepercayaan paling rendah.
Togo menempati posisi terbawah dengan 5,8 persen responden yang sangat percaya sains. Disusul Makedonia Utara (8,2 persen), lalu Somalia dan Georgia yang sama-sama mencatat 9,1 persen.
Pakistan menyusul di 9,3 persen, kemudian Jamaika (10,2 persen), Moldova (10,4 persen), Albania (10,8 persen), Mauritius (11,7 persen), dan Gambia (12,2 persen). Indonesia tidak masuk kelompok ini karena persentasenya jauh lebih tinggi.
Dengan 20,1 persen, Indonesia berada tepat di bawah Turki yang mencatat 20,0 persen. Dibandingkan negara ASEAN lain, capaian Indonesia masih lebih baik dari Malaysia (18,7 persen), Kamboja (18,4 persen), dan Thailand (13,2 persen).
Namun Indonesia tertinggal cukup jauh dari Filipina yang mencatat 37,6 persen, Singapura 32 persen, dan Vietnam 31,7 persen. Selisih dengan Filipina mencapai lebih dari 17 poin persentase.
Spanyol memimpin daftar negara paling percaya sains dengan 67,9 persen. Finlandia menyusul di 65,9 persen, lalu Uzbekistan (63,8 persen) dan Tajikistan (60,7 persen).
Dua negara terakhir melampaui negara dengan industri riset lebih mapan. Amerika Serikat berada di peringkat ke-13 dengan 52,5 persen, Inggris ke-14 dengan 51,2 persen, dan Prancis ke-16 dengan 50,2 persen.
Wellcome menegaskan angka ini hanya mengukur responden yang menyatakan sangat percaya sains, bukan seluruh populasi yang memiliki kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan.
Pada 2025, 75 persen responden menyatakan cukup atau sangat percaya sains. Angka itu turun dari 80 persen pada 2020, dan lebih rendah dibanding 2010 yang mencapai 77 persen.
Kelompok yang menyatakan sedikit atau sama sekali tidak percaya sains naik dari 13 persen pada 2020 menjadi 19 persen pada 2025. Perbandingan dihimpun dari 108 negara yang tercakup di ketiga periode survei, dengan catatan perubahan metode survei di China yang memengaruhi agregat global.
Kondisi ekonomi berkorelasi dengan pandangan terhadap sains. Sebanyak 39 persen responden yang merasa nyaman dengan pendapatannya mengaku sangat percaya sains, sementara di kelompok yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup angkanya turun menjadi 20 persen.
Pola serupa muncul dari kepercayaan pada layanan kesehatan. Secara global 26 persen responden sangat percaya sains, tetapi di antara mereka yang menaruh kepercayaan tinggi pada rumah sakit dan fasilitas kesehatan negara, proporsinya mencapai 43 persen.
Uzbekistan dan Tajikistan, dua negara berpenduduk mayoritas Muslim, justru masuk empat besar dengan kepercayaan sains tertinggi. Sebaliknya Pakistan, yang juga mayoritas Muslim, berada di peringkat kelima negara paling tidak percaya sains dengan 9,3 persen.
Perbedaan itu menunjukkan agama mayoritas yang sama tidak otomatis menghasilkan tingkat kepercayaan serupa. Penelitian Theos Think Tank yang dikutip CNBC menemukan 94 persen ilmuwan di India dan 87 persen di Turki mengidentifikasi diri dengan tradisi agama tertentu, jauh di atas AS (40 persen) dan Inggris (36 persen).
Pew Research Center juga mencatat sebagian pemeluk Islam, Hindu, dan Buddha memandang agama dan sains sebagai dua hal yang bisa berjalan berdampingan. Bagi Indonesia, temuan Wellcome memberi pijakan untuk menakar seberapa jauh literasi sains perlu dikuatkan di ruang publik.