MASOHI — Kepala BWS Maluku Ruslan Malik menyatakan penanganan kekeringan melalui pompanisasi dan distribusi air ke lahan pertanian merupakan tindak lanjut arahan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Arnold Ritiauw. Laporan Satgas Bencana Kekeringan BWS Maluku menyebut kebutuhan air di beberapa petak sawah D.I. Samal belum terpenuhi.
Tanaman padi di lokasi tersebut telah memasuki fase pematangan atau pengisian bulir. Pada fase itu, pasokan air masih dibutuhkan dalam jumlah memadai.
Tim Satgas Kekeringan BWS Maluku bergerak bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Gapoktan Tunas Maju, serta masyarakat dan petani setempat. Air didistribusikan memakai mobil tangki berkapasitas 8.000 liter.
Air dari mobil tangki kemudian dipompa dan dialirkan langsung ke petak-petak sawah yang kekurangan air. Hasilnya, sekitar 1,5 ha lahan persawahan di D.I. Samal memperoleh tambahan suplai air untuk mempertahankan ketersediaan air pada fase pengisian bulir.
"Apa yang kami lakukan ini dengan penanganan kekeringan persawahan melalui distribusi air ke lahan pertanian. Penanganan kekeringan persawahan ini dilakukan atas arahan dan perintah Bapak Dirjen SDA Kementerian PU, dalam antisipasi kekeringan sesuai slogan Cari, Temukan, dan Eksekusi, untuk mengatasi kekeringan di daerah," kata Ruslan.
BWS Maluku akan memantau kondisi tanaman padi dan kebutuhan air di lahan terdampak. Distribusi air lanjutan disiapkan apabila pasokan irigasi masih belum mencukupi.
"Koordinasi dengan kelompok P3A juga akan terus dilakukan guna memastikan penyaluran air berjalan efektif hingga masa panen selesai," jelas Ruslan.
Langkah darurat ini menyasar petani di Seram Utara Timur Kobi yang menghadapi keterbatasan pasokan irigasi di sejumlah petak sawah sejak awal musim tanam II.