Pencarian

Ambon Transformasi UMKM Lewat Ruang Publik dan Digitalisasi QRIS

Jumat, 01 Mei 2026 • 20:50:53 WIB
Ambon Transformasi UMKM Lewat Ruang Publik dan Digitalisasi QRIS
Booth kontainer di Ambon menjadi ruang produktif mendukung aktivitas UMKM.

Ambon — Penataan UMKM di Ambon tidak lagi sekadar program bantuan, melainkan proses merawat ekosistem di mana ruang, manusia, dan peluang saling terhubung. Pemerintah Kota Ambon telah menetapkan UMKM sebagai fondasi utama pengembangan ekonomi daerah, dengan strategi yang menyentuh berbagai aspek secara bersamaan.

Ruang Publik Berubah Menjadi Ruang Produktif

Transformasi ekonomi Ambon mulai terlihat nyata di sejumlah sudut kota. Ruang-ruang terbuka yang sebelumnya hanya menjadi tempat berkumpul kini beralih fungsi menjadi ruang produktif, di mana aktivitas ekonomi tumbuh berdampingan dengan kehidupan sosial masyarakat. Pemerintah Kota Ambon telah menyalurkan 80 unit booth kontainer dan 200 etalase untuk mendukung aktivitas berjualan masyarakat.

Lokasi strategis seperti Wainitu, Air Salobar, dan Amahusu ditata tidak hanya sebagai ruang sosial, tetapi juga sebagai ruang ekonomi. Penataan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan usaha yang lebih tertib, higienis, dan memiliki daya tarik bagi masyarakat. Di Wainitu, misalnya, kehadiran booth-booth baru memberikan peluang bagi komunitas lokal seperti Doodle Art Ambon untuk memamerkan hasil karya mereka.

Akses Pembiayaan dan Pendampingan Komprehensif

Selain fasilitas fisik, dukungan juga diberikan melalui akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), bantuan kelompok usaha bersama, dan program pengembangan usaha bagi ribuan UMKM. Pendekatan multi-aspek ini dirancang untuk menjawab tantangan klasik yang dihadapi pelaku UMKM: keterbatasan modal, akses pasar, hingga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena melihat ruang-ruang publik tersebut bukan hanya sebagai tempat berkumpul, melainkan sebagai titik awal membangun ekosistem ekonomi rakyat yang lebih inklusif. Dari sana, berbagai intervensi dilakukan—mulai dari penyediaan sarana usaha, edukasi keuangan, hingga dorongan digitalisasi.

Digitalisasi QRIS: Adaptasi Lambat Namun Pasti

Salah satu langkah strategis yang kini diterapkan adalah penggunaan sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di ruang-ruang terbuka publik seperti Wainitu, Air Salobar, dan Amahusu. Upaya ini bukan sekadar mengikuti tren, tetapi bagian dari strategi memperluas inklusi dan literasi keuangan di tengah masyarakat.

Proses adopsi QRIS berjalan bertahap. Putri Ubra (23), penjual kerajinan tangan di Wainitu, baru mulai menggunakan QRIS sekitar sepekan terakhir. Ia mengakui bahwa mayoritas pembeli masih lebih nyaman dengan transaksi tunai, meskipun terdapat pergeseran ke arah digital terutama dari kalangan anak muda. Perubahan cara bertransaksi ini membutuhkan waktu, pendampingan, dan kesabaran dari berbagai pihak.

Digitalisasi dalam konteks ini tidak hanya berbicara soal teknologi, tetapi juga tentang perubahan kebiasaan baik dari sisi penjual maupun pembeli. Meskipun pemerintah telah membuka akses, adopsi masih mengikuti ritme keseharian pelaku usaha yang sebelumnya lebih akrab dengan transaksi konvensional.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan UMKM Ambon didukung oleh kombinasi infrastruktur fisik, akses finansial, dan transformasi digital yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Dalam jangka panjang, pendekatan holistik ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi rakyat Ambon dan meningkatkan daya saing UMKM di era digital.

Bagikan
Sumber: antaranews.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks