Pencarian

Rupiah Terperosok ke Rp17.489 per Dolar AS, IKK Naik Tipis Tak Cukup Jadi Penopang

Selasa, 12 Mei 2026 • 10:13:01 WIB
Rupiah Terperosok ke Rp17.489 per Dolar AS, IKK Naik Tipis Tak Cukup Jadi Penopang
Rupiah melemah ke Rp17.489 per dolar AS pada perdagangan pagi di Maluku.

MALUKU — Berdasarkan data pasar spot, rupiah terpantau melemah 0,43 persen pada pukul 09.04 WIB dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya, Senin (11/5), kurs Jisdor BI juga tercatat melemah 40 poin ke level Rp17.415.

Faktor Geopolitik Lebih Dominan Ketimbang Sentimen Domestik

Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut pergerakan rupiah hari ini masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. “Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.410—Rp17.460,” ujarnya.

Tekanan eksternal datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS “sama sekali tidak dapat diterima”. Eskalasi ini meningkatkan risiko geopolitik dan mendorong investor beralih ke dolar AS.

IKK Naik ke 123, Tapi Ekspektasi Konsumen Justru Turun Tipis

Bank Indonesia (BI) merilis data IKK April 2026 yang berada di level 123,0 atau naik tipis dari 122,9 pada Maret 2026. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.

Kenaikan IKK didorong oleh membaiknya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik dari 115,4 menjadi 116,5. Artinya, persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru turun tipis dari 130,4 menjadi 129,6. Ini mengindikasikan optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan sedikit lebih moderat.

Sentimen Domestik Belum Mampu Melawan Arus Global

Data IKK yang solid seharusnya menjadi katalis positif bagi rupiah. Namun, tekanan dari faktor eksternal terbukti lebih dominan. Pasar masih mencerna risiko geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, di mana ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas.

Investor asing cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memilih instrumen dolar AS yang lebih aman. Hal ini tercermin dari pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal pekan.

Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran serta data ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Pasar juga menunggu langkah BI dalam menstabilkan kurs melalui intervensi jika diperlukan.

Bagikan
Sumber: tvonenews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks