MALUKU — Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) merosot tajam pada perdagangan Kamis (8/10) setelah pengendali JARR menggadaikan seluruh sahamnya ke PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Aksi gadai itu dilakukan untuk menjamin fasilitas kredit perseroan, di tengah manuver Haji Isam mengakuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai triliunan rupiah.
Paragraf pembuka: PT Eshan Agro Sentosa selaku pengendali JARR menandatangani akta gadai atas 7.997.556.204 lembar saham atau 100% dari total kepemilikannya di perseroan. Langkah itu bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh JARR dari Bank Mandiri. Pengumuman ke publik baru disampaikan lewat keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Rabu (7/10), sepekan setelah akta ditandatangani.
Reaksi Pasar: JARR dan PGUN Tertekan
Tekanan jual langsung terasa begitu laporan gadai saham mencuat. Pada perdagangan intraday Kamis (8/10), saham JARR sempat anjlok 12,24% ke level Rp 3.010 pada pukul 09.42 WIB. PGUN tidak luput, melemah 2,45% ke Rp 8.950 pada pukul 09.48 WIB.
Investor tampaknya mencermati risiko yang menyertai aksi korporasi itu. Menggadaikan 100% saham pengendali ke bank berarti tidak ada lagi ruang jaminan yang tersisa jika perseroan membutuhkan pendanaan tambahan.
Alasan di Balik Gadai Saham
Direktur Utama JARR, Indra Irawan, menjelaskan alasan aksi tersebut dalam dokumen keterbukaan informasi.
"Penandatanganan akta gadai saham milik PT Eshan Agro Sentosa, yang merupakan pengendali dari perseroan dalam rangka bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas Kredit yang diperoleh perseroan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk," ungkap Indra.
Artinya, saham pengendali dijadikan jaminan agar JARR bisa mengakses kredit dari Bank Mandiri. Skema semacam ini lazim di kalangan emiten, tetapi besarnya porsi yang digadaikan—100%—membuat pasar memberi perhatian lebih.
Manuver Haji Isam di Bayan Resources
Di saat bersamaan, Haji Isam melakukan repo atas saham pengendali PGUN, antara lain milik PT Baramega Citra Mulia Persada, PT Citra Agro Raya, dan PT Araya Agro Lestari. Aksi itu berkaitan dengan langkahnya mengakuisisi emiten tambang batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Saham BYAN mencatatkan transaksi crossing jumbo di pasar negosiasi pada Rabu (7/10) dengan total sekitar 10,08 miliar saham atau Rp 26,1 triliun di harga Rp 2.588 per saham. Transaksi terjadi tiga kali: pukul 09.31 WIB sekitar 166,6 ribu lot senilai Rp 43,1 miliar, pukul 09.38 WIB sekitar 50 juta lot senilai Rp 12,94 triliun, dan pukul 09.39 WIB sebanyak 50,67 juta lot senilai Rp 13,11 triliun.
Melalui PT Jhonlin Baratama, jumlah saham BYAN yang akan dicaplok Haji Isam bertambah 84,09 juta saham menjadi 10,08 miliar saham. Manajemen Bayan Resources menyatakan jumlah saham biasa yang akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham, atau sekitar 30%.
Tekanan di Dua Emiten Jhonlin
Bagi pemegang saham minoritas JARR dan PGUN, aksi gadai ini menambah daftar kekhawatiran. Harga saham kedua emiten sudah tertekan sejak awal sesi, dan pasar masih menunggu penjelasan lebih rinci soal struktur kredit yang diperoleh dari Bank Mandiri.
Sejauh mana gadai saham pengendali memengaruhi tata kelola JARR ke depan akan menjadi pertanyaan utama investor. Yang jelas, pasar sudah memberi respons cepat begitu laporan keterbukaan informasi menyentuh layar perdagangan.