LANGGUR — Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mencatatkan pencapaian signifikan dalam upaya penurunan angka stunting. Prevalensi anak yang mengalami gangguan pertumbuhan di wilayah itu kini berada di angka 12,07 persen, lebih rendah dari target nasional.
Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang berjalan secara berkelanjutan. Kepala Dinas Kesehatan Maluku Tenggara, Muhsin Rahayaan, menekankan bahwa pencegahan dilakukan sejak dini, bukan saat anak sudah mengalami gizi buruk.
“Stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada prosesnya, mulai dari berat badan tidak naik, gizi kurang hingga gizi buruk. Itu yang kami cegah,” ujarnya di Langgur, Rabu (20/5/2026).
Pemkab tidak hanya mengandalkan pendekatan medis. Sejumlah intervensi spesifik diterapkan, seperti pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal, distribusi tablet tambah darah untuk remaja putri dan ibu hamil, serta edukasi gizi kepada masyarakat di kampung-kampung.
Tiga wilayah prioritas penanganan ditetapkan di Kecamatan Kei Besar, yaitu Ohoi Yam Timur, Banda Ely Rahan, dan Ohoi Mun. Ketiga kampung ini mendapat perhatian khusus karena angka stunting di sana sebelumnya lebih tinggi dibanding wilayah lain.
Selain intervensi kesehatan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penguat utama perbaikan gizi masyarakat. Saat ini, empat dapur MBG telah beroperasi di wilayah Kei Kecil dan melayani ribuan penerima manfaat setiap hari.
Pemkab menargetkan penambahan hingga 39 dapur pada tahun 2026. Ekspansi ini menyasar kampung-kampung terpencil yang selama ini sulit dijangkau distribusi pangan bergizi.
Dengan capaian ini, Maluku Tenggara menjadi salah satu kabupaten di Maluku yang berhasil melampaui target nasional penurunan stunting. Pemkab berkomitmen mempertahankan tren positif ini melalui penguatan posyandu dan keterlibatan kader kesehatan di setiap desa.