MALUKU — Belanda akan tampil di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dengan status sebagai salah satu tim unggulan. Namun, catatan buruk di partai final—kalah di 1974, 1978, dan 2010—masih menjadi beban psikologis yang harus dijawab oleh skuad asuhan Ronald Koeman.
Absen total di Rusia 2018 setelah finis ketiga di grup kualifikasi di bawah Prancis dan Swedia menjadi titik terendah. Empat tahun kemudian, Belanda bangkit dan melaju ke perempat final Qatar 2022, tetapi kembali tersingkir oleh Argentina melalui adu penalti setelah bermain imbang 2-2 dalam laga yang penuh ketegangan.
Kekalahan itu memperpanjang rekor buruk Oranje di babak gugur. Sejak final 2010, mereka belum pernah menembus semifinal—terhenti di perempat final 2022 dan semifinal 2014 (kalah adu penalti dari Argentina).
Satu-satunya momen manis dalam satu dekade terakhir terjadi di Brasil 2014. Belanda menghancurkan Spanyol 5-1 di laga pembuka, sebuah balasan atas kekalahan di final 2010. Robin van Persie mencetak gol spektakuler dengan sundulan melayang yang menjadi ikon turnamen.
Sayangnya, langkah mereka terhenti di semifinal oleh Argentina dalam adu penalti yang melelahkan. Pola ini—dominan di fase grup, lalu patah di babak gugur lewat drama tos-tosan—menjadi momok yang terus menghantui.
Belanda saat ini memiliki kombinasi pemain berpengalaman seperti Virgil van Dijk dan Frenkie de Jong, plus bintang muda seperti Xavi Simons dan Jurriën Timber. Kedalaman skuad ini dianggap lebih merata dibandingkan edisi 2022.
Masalah utama tetap di lini depan. Memphis Depay masih menjadi andalan, tetapi konsistensi di turnamen besar masih dipertanyakan. Koeman perlu menemukan formula tepat agar Oranje tidak kembali gagal di momen krusial.
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama dengan 48 tim. Belanda diprediksi lolos dengan mudah dari fase grup, namun ujian sesungguhnya dimulai di babak gugur—fase yang selama 14 tahun terakhir selalu berakhir dengan air mata.
Akankah keberuntungan akhirnya berpihak pada Oranje? Atau sejarah kembali berulang dengan drama adu penalti yang menyakitkan? Jawabannya akan diketahui di Amerika Utara tahun depan.