JAKARTA — Kementerian ESDM memastikan program transisi energi hijau menyasar langsung daerah-daerah yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, termasuk di Maluku. Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra, mengungkapkan bahwa pengguna energi fosil di sektor industri dan transportasi merupakan kontributor emisi karbon terbesar. “Oleh karena itu, penting untuk menekan emisi dengan energi hijau,” katanya di Jakarta, Rabu.
Salah satu target ambisius yang dikejar pemerintah adalah pembangunan kapasitas panel surya hingga 100 GW. Untuk mewujudkannya, Kementerian ESDM melakukan sinkronisasi program nasional yang mencakup wilayah kepulauan seperti Maluku. Program dedieselisasi pembangkit listrik di pulau terpencil menjadi prioritas untuk menggantikan PLTD yang dinilai kurang ramah lingkungan.
Selain itu, program bantuan pasang baru listrik (BPBL) dan program listrik desa (lisdes) berbasis energi surya terus dilanjutkan. Program ini menyasar masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik memadai, menggantikan ketergantungan pada diesel yang biaya operasionalnya tinggi dan emisinya besar.
Hangga juga memaparkan perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Saat ini, kepemilikan kendaraan listrik tercatat lebih dari 350.000 unit, dengan mayoritas didominasi kendaraan roda dua serta tren positif pertumbuhan roda empat dengan harga terjangkau. Ia mencontohkan penggunaan kendaraan listrik di tengah kemacetan Jakarta yang mampu menghemat biaya bahan bakar secara signifikan dibandingkan Pertalite maupun Pertamax yang tidak disubsidi.
Pemerintah juga tengah memetakan aspek pengelolaan limbah dan daur ulang baterai litium secara serius. Hal ini untuk memastikan siklus hidup kendaraan listrik benar-benar bersih dan berkelanjutan dari hulu ke hilir.
Program dedieselisasi dan pemasangan listrik desa berbasis surya dinilai menjadi solusi konkret bagi warga di pulau-pulau terpencil di Maluku yang selama ini belum menikmati listrik andal. Dengan mengganti PLTD yang boros bahan bakar, pemerintah berharap biaya listrik bisa lebih murah dan pasokan lebih stabil. Hangga menggarisbawahi bahwa Kementerian ESDM terus bekerja memastikan sumber energi kendaraan listrik berasal dari pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT), bukan fosil, agar esensi ramah lingkungan terpenuhi secara utuh.