AMBON — Sebanyak 17 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Maluku sendiri duduk bersama di Ambon. Mereka membahas satu agenda utama: bagaimana perguruan tinggi penghasil guru bisa lebih relevan dengan kebutuhan riil pemerintah daerah.
Workshop bertajuk “Peran LPTK bagi Pemerintah Daerah” ini digagas oleh Program INOVASI Fase 3 bekerja sama dengan Universitas Pattimura. Forum ini menghadirkan Direktur Pendidikan Profesi Guru Kemendikdasmen, Ferry Maulana Putra; Rektor Unpatti, Fredy Leiwakabessy; serta perwakilan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Hannah Derwent.
Rektor Unpatti, Fredy Leiwakabessy, dalam sambutannya mengibaratkan guru sebagai bibit unggul yang harus terus diperkuat. “Jika bibit yang baik tidak mendapatkan penguatan dan dukungan yang memadai, maka potensinya tidak akan berkembang secara optimal,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa LPTK bukan sekadar tempat mencetak ijazah, melainkan pabrik utama sumber daya manusia pendidikan. Menurut Fredy, sinergi antara kampus dan pemerintah daerah menjadi kunci agar lulusan guru benar-benar siap ditempatkan di sekolah-sekolah pelosok Maluku.
Dekan FKIP Unpatti sekaligus Ketua Panitia, Prof. Izaak H. Wenno, mengatakan workshop ini bukan sekadar seremoni. “Ini ruang kolaboratif untuk menggali ide dan merumuskan langkah strategis membangun pendidikan berkualitas, tidak hanya untuk Maluku tetapi juga Indonesia,” katanya.
Beberapa topik yang mengemuka dalam diskusi meliputi:
Counsellor for Knowledge, Innovation and Humanitarian Affairs Kedutaan Besar Australia, Hannah Derwent, menyebut komitmen negaranya mendukung pendidikan Indonesia sudah berlangsung hampir tujuh dekade. “Guru, LPTK, dan pemerintah daerah adalah bagian penting dari ekosistem pendidikan yang memiliki peran strategis,” ujarnya dalam sambutan daring.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini diharapkan berkontribusi langsung pada visi Indonesia Emas 2045, terutama dalam menyiapkan tenaga pendidik yang adaptif terhadap tantangan lokal.
Direktur Pendidikan Profesi Guru Kemendikdasmen, Ferry Maulana Putra, menegaskan bahwa kualitas SDM suatu daerah sangat ditentukan oleh kualitas gurunya. “Kunci utama mewujudkan sumber daya manusia yang unggul adalah guru. Karena itu, guru harus profesional dan juga sejahtera,” tegasnya.
Ferry mengingatkan bahwa pendidikan profesi guru tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara pusat, daerah, dan perguruan tinggi untuk menciptakan tata kelola guru yang efektif dan berkelanjutan. “Pendidikan yang bermutu hanya bisa diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat,” pungkasnya.
Workshop ini juga dihadiri oleh mahasiswa FKIP Unpatti dan UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, yang diharapkan menjadi calon guru yang kelak akan mengajar di sekolah-sekolah di Maluku dan Indonesia Timur.