AMBON — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menekankan bahwa proses belajar tidak berhenti setelah wisuda. Ia mengingatkan 323 wisudawan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon bahwa ijazah hanyalah pintu awal, bukan akhir dari perjalanan intelektual.
"Tuntutan dunia luar terhadap para wisudawan lebih dari sekadar ijazah sarjana yang dikantongi," kata Hendrik saat menghadiri Rapat Senat Terbuka Luar Biasa UKIM Ambon Periode I Tahun 2026, Senin.
Menurutnya, para lulusan harus terus mengasah kemampuan, kreativitas, dan kepemimpinan untuk menghadapi dinamika global yang kian kompleks. Ia menyebut 323 wisudawan itu sebagai agen-agen perubahan yang dinantikan kontribusinya bagi Maluku dan Indonesia.
Hendrik menegaskan bahwa mewujudkan Maluku yang berkualitas adalah tugas kolektif. Pemerintah daerah akan berperan sebagai regulator melalui kebijakan strategis, sementara lembaga pendidikan wajib menjaga mutu, dan masyarakat harus terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan.
"Saya mengajak seluruh sivitas akademika UKIM Ambon terus berkolaborasi dengan pemda dan semua elemen masyarakat bersama membangun daerah demi mewujudkan visi transformasi menuju Maluku yang adil dan sejahtera," tandasnya.
Ia menambahkan, tantangan masa depan semakin berat akibat perkembangan teknologi yang pesat serta dinamika sosial-ekonomi global. Lulusan perguruan tinggi dituntut berani menciptakan peluang, bukan sekadar menunggu, serta mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
Rektor UKIM Ambon Steve G.C Gaspersz mengungkapkan rasa syukur atas capaian akreditasi. Dua program studi, yakni Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), berhasil meraih status akreditasi unggul dalam lima bulan terakhir.
"Kami sangat bersyukur dalam lima bulan terakhir proses akreditasi dua program studi mendapatkan status akreditasi unggul," tandas Steve.
Ia berharap 323 wisudawan dan wisudawati ini mampu membawa transformasi ilmu yang didapat selama perkuliahan ke tengah masyarakat.
Benhur George Watubun, perwakilan wisudawan yang juga anggota DPRD Maluku, mengakui bahwa perjalanan sebagai mahasiswa tidak selalu mudah. Tantangan, kegagalan, dan berbagai proses telah menguji ketekunan mereka.
"Namun lewat semua proses ini, kami belajar tentang kerja keras, disiplin, tanggung jawab, dan pentingnya semangat untuk terus bertumbuh sehingga hari ini menjadi bukti bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan tekun akan menghasilkan buah yang indah pada waktunya," kata Benhur.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, dan dinamika sosial, termasuk kehadiran kecerdasan buatan, menuntut perubahan cara belajar, mengajar, dan bekerja.