AMBON — Kolaborasi antara otoritas karantina dan pengelola pelabuhan ini dinilai strategis mengingat volume bongkar muat komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan di Pelabuhan Ambon terus meningkat. Kepala BKHIT Maluku Willy Indra Yunan menegaskan bahwa tanpa koordinasi yang erat, celah penyebaran organisme pengganggu tumbuhan atau penyakit hewan bisa terbuka lebar.
“Pelabuhan memiliki peran strategis sebagai pintu masuk dan keluar berbagai komoditas. Karena itu diperlukan kolaborasi yang kuat antarinstansi agar pengawasan karantina berjalan optimal tanpa menghambat kelancaran distribusi barang,” kata Willy di Ambon, Rabu.
BKHIT, sebagai unit pelaksana teknis Badan Karantina Indonesia, memiliki kewenangan penuh terhadap setiap media pembawa yang dilalulintaskan. Tindakan karantina yang dilakukan mencakup pemeriksaan dokumen dan fisik komoditas, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, hingga penolakan dan pemusnahan jika ditemukan indikasi hama atau penyakit.
Semua prosedur itu diterapkan pada hewan, ikan, tumbuhan, serta produk turunannya yang masuk atau keluar wilayah Maluku. Menurut Willy, koordinasi dengan Pelindo menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pengawasan yang terintegrasi sehingga setiap komoditas yang melalui pelabuhan telah memenuhi persyaratan karantina sebelum didistribusikan ke berbagai daerah maupun diekspor.
General Manager PT Pelindo (Persero) Regional IV Cabang Ambon, Zahlan Sattahibe, menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung tata kelola pelabuhan yang efisien dan tertib. Ia menekankan bahwa pengelola pelabuhan siap memfasilitasi kebutuhan ruang dan akses bagi petugas karantina saat melakukan pemeriksaan.
“Pelindo siap mendukung penguatan koordinasi dengan Karantina Maluku agar proses pelayanan di pelabuhan berjalan lancar sekaligus tetap memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku,” ujar Zahlan.
Sebagai pengelola pelabuhan, Pelindo bertanggung jawab mengatur arus kapal, barang, dan penumpang. Dengan integrasi pengawasan karantina, proses distribusi komoditas seperti ikan beku, kopra, dan hasil hutan dari Maluku diharapkan tidak mengalami hambatan berarti.
Sinergi ini tidak hanya menyangkut aspek biosekuriti, tetapi juga berdampak langsung pada kelancaran perdagangan. Maluku selama ini mengandalkan jalur laut untuk mengirim komoditas unggulan ke luar daerah maupun ke pasar ekspor. Jika pengawasan karantina berjalan efektif, risiko penolakan muatan di pelabuhan tujuan karena alasan kesehatan hewan atau tumbuhan bisa diminimalkan.
Diharapkan sinergi ini dapat mendukung kelancaran perdagangan antarpulau maupun ekspor dari Maluku, sekaligus menjaga keamanan hayati wilayah melalui pengawasan karantina yang efektif di setiap pintu masuk dan keluar komoditas.