Kacamata AI Meta Makin Sulit Disalahgunakan untuk Rekam Diam-diam, Tapi Kekhawatiran Privasi Pengguna Belum Usai

Penulis: Tedy Rustandi  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 01:04:01 WIB
Meta tambahkan fitur keamanan agar kamera kacamata AI otomatis mati saat lampu indikator dirusak.

MALUKU — Meta akhirnya angkat bicara soal kekhawatiran publik terhadap kacamata pintar Ray-Ban Meta yang kerap disebut sebagai alat pengintai. Dalam pengumuman resmi pekan ini, perusahaan menyematkan lapisan keamanan baru: kamera akan otomatis nonaktif jika lampu LED yang menyala saat merekam dirusak atau dihalangi.

Kenapa Meta Tiba-tiba Peduli Keamanan?

Langkah ini bukan tanpa alasan. Meta mengakui secara gamblang bahwa sejumlah pengguna telah menggunakan selotip untuk menutupi lampu LED indikator. Bahkan, ada yang melakukan "upaya rumit untuk memodifikasi atau menghancurkan LED perekaman," tulis Meta dalam blog resminya.

Dengan kata lain, perusahaan mengonfirmasi bahwa kacamata ini memang digunakan oleh oknum untuk merekam situasi atau orang — seringkali perempuan — tanpa izin. Reputasi buruk ini kontras dengan citra modis yang dibangun lewat promosi selebriti seperti Kylie Jenner.

Di Balik Fitur Keamanan, Ada Ekspansi Data Besar-besaran

Ironisnya, pengumuman fitur keamanan ini datang berbarengan dengan sederet kebijakan baru Meta yang justru meminta lebih banyak data pribadi. Pada hari yang sama, Meta mengumumkan bahwa Meta AI kini bisa menggunakan foto publik dari Instagram siapa pun untuk menghasilkan gambar AI — kecuali pengguna secara manual memilih keluar (opt-out).

Fitur lain memungkinkan Meta AI mengakses gambar di Camera Roll yang belum pernah dibagikan. Belum lagi rencana perusahaan untuk melatih AI-nya dengan data pengguna, termasuk eksplorasi perekaman terus-menerus dan pengenalan wajah biometrik.

Meta AI dan Pertanyaan Privasi yang Tak Kunjung Usai

Kebijakan privasi Meta menyebutkan bahwa gambar apa pun yang Anda bagikan ke Meta AI bisa digunakan untuk melatih model AI mereka. Ini berarti foto yang Anda kirimkan ke asisten AI — meski hanya untuk iseng — berpotensi menjadi data latih.

Lebih mengkhawatirkan lagi, Financial Times melaporkan bahwa Meta tengah menguji prototipe kacamata AI yang bisa "mengumpulkan audio secara terus-menerus sambil mengambil foto setiap beberapa detik." Ini jelas melampaui batas privasi yang selama ini dikhawatirkan publik.

Kasus hukum pun mulai berdatangan. Salah satu gugatan muncul setelah Meta membatalkan kontrak dengan perusahaan alih daya di Kenya. Pekerja di sana mengaku harus meninjau konten grafis — termasuk seks, ketelanjangan, dan orang sedang menggunakan toilet — dari video kacamata Meta AI untuk keperluan pelatihan AI.

Catatan Hitam Privasi yang Sudah Menahun

Ini bukan pertama kalinya Meta bermasalah dengan privasi. Skandal Cambridge Analytica pada 2018, kebocoran data massal, hingga buku-buku yang ditulis whistleblower soal praktik perusahaan yang mengutamakan pertumbuhan di atas segalanya menjadi catatan kelam. Apple bahkan menolak bermitra dengan Meta karena masalah privasi.

Di sisi lain, Meta memanfaatkan data obrolan AI pengguna untuk menargetkan iklan, dan merekam ketikan (keystrokes) karyawannya sendiri untuk melatih AI. Semua ini terjadi di tengah klaim perusahaan bahwa mereka telah "berinvestasi besar-besaran dalam program privasi" sejak 2019.

Apa Artinya Buat Pengguna Indonesia?

Bagi pengguna di Indonesia, fitur keamanan LED pada kacamata Meta mungkin terdengar sebagai kabar baik. Tapi perlu diingat: fitur ini hanya mencegah perekaman diam-diam — tidak mengatasi masalah inti, yaitu bagaimana data visual dan suara Anda digunakan oleh perusahaan.

Meta sendiri mengklaim bahwa "tidak ada kamera lain yang melakukan ini" dan mereka bangga memimpin industri. Namun, selama kebijakan data tetap ekspansif dan opt-out menjadi pilihan kedua — bukan default — kepercayaan konsumen terhadap kacamata AI ini akan tetap tipis. Keputusan ada di tangan Anda: apakah LED yang menyala cukup meyakinkan, atau Anda butuh jaminan privasi yang lebih konkret sebelum membeli?

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top