MALUKU — Pernyataan itu dilontarkan Prabowo saat meresmikan penggunaan bahan bakar campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang. Dalam sambutannya, ia mengaku kerap mendapat pertanyaan dari tokoh dunia mengapa Indonesia tidak menaikkan harga BBM untuk rakyat kecil di tengah tekanan global.
"Saya kaget sendiri tokoh-tokoh dunia membicarakan Indonesia. Indonesia kok berhasil, Indonesia kok tidak panik, Indonesia kok tidak naikin harga BBM untuk rakyat kecil," kata Prabowo dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.
Presiden menilai masyarakat dengan kemampuan ekonomi tinggi, terutama yang mampu membeli kendaraan mahal, seharusnya tidak masalah dengan harga BBM nonsubsidi. Ia bahkan menyapa sejumlah pengusaha yang hadir, seperti Komisaris Utama PT Adaro Energy Garibaldi "Boy" Thohir dan mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arsjad Rasjid.
"Kalau untuk orang kaya ya enggak ada masalah ya, Boy. Ya Boy? Ya enggak? Hah? Boy enggak ada masalah Boy, bener enggak?" ujar Prabowo seraya menunjuk Boy Thohir. "Siapa lagi enggak ada masalah nih? Arsjad, ya. Kalau berani pakai Lamborghini ya harus berani bayar mahal dong," sambungnya.
Prabowo juga melontarkan pertanyaan serupa kepada Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang turut hadir dalam acara tersebut. Ketiganya disebut sebagai representasi kelompok mampu yang dianggap tak terbebani oleh selisih harga BBM bersubsidi dan nonsubsidi.
Di luar sesi tanya-jawab santai itu, Prabowo menegaskan bahwa peluncuran Biodiesel B50 merupakan momen yang telah lama dinantinya, bahkan sejak sebelum resmi menjabat sebagai presiden. Menurutnya, implementasi B50 menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyat.
"Ini bukan sekedar pencapaian teknologi, ini bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam menuju kemandirian energi," jelas Prabowo.
B50 merupakan produk biosolar dengan kandungan biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50 persen yang dicampur dengan 50 persen solar murni. Pemerintah menargetkan inovasi ini mampu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar secara signifikan.
Dengan memanfaatkan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku utama, pemerintah berharap rantai pasok energi nasional menjadi lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh fluktuasi harga minyak dunia. Kebijakan ini juga dinilai sebagai langkah konkret dalam transisi energi di sektor transportasi dan industri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pengusaha yang disebut-sebut Prabowo mengenai kesediaan mereka membayar BBM nonsubsidi dengan harga lebih mahal.