AMBON — Perayaan HUT ke-122 Jemaat GPM Rehoboth mengusung tema “Rumahku Gerejaku: Memberi dari Kelimpahan Syukur dalam Penyertaan-Nya”. Tema ini, menurut Wali Kota Bodewin Melkias Wattimena, menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen pelayanan gereja di tengah dinamika kehidupan masyarakat Kota Ambon yang terus berubah.
Bodewin secara spesifik menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Di tengah gempuran media sosial dan era disrupsi teknologi, ia menilai individualisme dan degradasi sosial mengancam nilai-nilai persaudaraan yang selama ini dijaga.
“Gereja adalah mitra penting pemerintah dalam membangun masyarakat yang berkarakter, berintegritas, dan peduli sesama. Di tengah era disrupsi teknologi dan media sosial yang membawa tantangan individualisme serta degradasi sosial, gereja harus hadir sebagai benteng pembinaan generasi muda yang takut akan Tuhan dan penjaga nilai persaudaraan,” ujar Bodewin dalam sambutannya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh warga jemaat. Kontribusi GPM Rehoboth selama lebih dari satu abad dinilai telah nyata dalam pembangunan spiritual, sosial, dan kemasyarakatan di Kota Ambon.
Ia mengajak para pelayan dan warga jemaat untuk terus menjadikan gereja sebagai pusat pembentukan karakter. Landasannya adalah kasih, iman, dan pelayanan nyata kepada sesama, bukan sekadar seremonial keagamaan.
Bodewin menegaskan bahwa pembangunan daerah yang sesungguhnya tidak hanya berhenti pada proyek fisik. Menurutnya, kualitas moral dan spiritual masyarakat justru menjadi fondasi yang menentukan arah pembangunan ke depan.
“Keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas moral, spiritual, dan karakter masyarakat,” kata Bodewin. Karena itu, ia memandang peran gereja sebagai mitra pemerintah dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan menjadi sangat krusial.
Perayaan HUT ke-122 ini menjadi pengingat bahwa GPM Rehoboth telah menjadi bagian dari denyut nadi Kota Ambon. Kehadiran gereja tidak hanya dirasakan oleh warganya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada harmoni sosial di kota yang dikenal dengan sejarah konflik komunalnya itu.
Melalui tema yang diangkat, jemaat diajak untuk terus memberi dari kelimpahan syukur. Artinya, pelayanan gereja harus berorientasi keluar, menjangkau dan berdampak bagi masyarakat luas, bukan hanya untuk internal jemaat semata.