Dari jendela pesawat yang akan mendarat di Bandara Pattimura, gugusan Pulau Ambon terlihat seperti zamrud yang pecah di Laut Banda. Maluku bukan cuma soal pantai dan gosong pasir putih. Di balik gemerlapnya, provinsi ini adalah museum hidup peradaban rempah Nusantara. Tapi, bicara soal objek wisata sejarah, banyak yang cuma tahu Benteng Victoria. Padahal, masih ada beberapa titik lain yang menyimpan cerita yang sama kuatnya.
Artikel ini bukan sekadar daftar tempat. Saya ingin mengajak kamu memahami konteks di balik setiap batu, benteng, dan lorong yang masih berdiri. Karena pengalaman paling berharga di Maluku bukan cuma foto, tapi cerita yang bisa kamu bawa pulang.
Benteng ini terletak di pusat Kota Ambon, tepat di kawasan Kelurahan Uritetu. Dibangun Portugis pada 1575 dengan nama Fortaleza da Nossa Senhora da Anunciada, benteng ini berkali-kali berganti tangan: Portugis, Spanyol, VOC, hingga Inggris. Kini, sebagian besar bangunannya ditempati Markas Kodam Pattimura, tapi area publik masih bisa diakses.
Yang menarik, di halaman benteng ini terdapat monumen Martha Christina Tiahahu, pahlawan perempuan asal Maluku. Kalau kamu datang pagi hari, udara sejuk dan suara lonceng gereja dari Gereja Katedral di seberang jalan menciptakan kontras yang kuat—antara sejarah kolonial dan semangat perlawanan lokal. Jangan lupa cek jam operasional terbaru sebelum berkunjung, karena area militer punya aturan akses yang ketat.
Berada di kawasan Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, museum ini sering luput dari radar wisatawan. Padahal, koleksinya luar biasa. Dari kapak genggam zaman Neolitikum, keramik Dinasti Ming, hingga senjata peninggalan Perang Dunia II. Ada juga replika rumah adat dari seluruh Maluku.
Saya pribadi paling suka ruang koleksi etnografi. Di sana ada kain tenun dari Pulau Tanimbar yang motifnya tidak ditemukan di daerah lain. Tiket masuknya sangat terjangkau, dan tempatnya sepi di hari kerja. Cocok buat kamu yang ingin belajar tanpa tergesa-gesa.
Tidak banyak yang tahu, di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, ada satu benteng lagi peninggalan Portugis yang kondisinya masih lumayan utuh: Benteng Tolukko. Dibangun tahun 1540, benteng ini lebih kecil dari Benteng Victoria, tapi justru di situlah daya tariknya. Lokasinya di atas bukit, dengan pemandangan langsung ke Teluk Ambon.
Dulu, benteng ini jadi tempat pengintaian kapal dagang yang masuk. Sekarang, bagian dalamnya sudah ditumbuhi rumput, dan beberapa dindingnya retak. Tapi, dari atas sini kamu bisa melihat garis pantai yang sama seperti yang dilihat oleh para pelaut Portugis lima abad lalu. Tidak ada tiket resmi, cukup koordinasi dengan masyarakat setempat.
Banda Neira memang butuh effort ekstra untuk dicapai—terbang dulu ke Bandara Bandanaira atau naik kapal dari Ambon. Tapi, semua capek terbayar begitu menginjakkan kaki di dermaga. Di pulau ini, ada Benteng Belgica yang dibangun VOC tahun 1611. Bentuknya segi lima, mirip bintang, dan dindingnya setebal dua meter.
Selain benteng, ada Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir. Bangunan kolonial sederhana itu sekarang jadi museum. Di dalamnya, ada meja tulis asli yang dipakai Bung Hatta saat menulis surat-suratnya. Kamu bisa duduk di kursi yang sama—sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di pusat Kota Ambon, tepat di Lapangan Merdeka, berdiri patung Thomas Matulessy alias Pattimura. Monumen ini diresmikan tahun 1973. Lokasinya strategis, dikelilingi oleh kantor gubernur dan gereja tua. Banyak wisatawan berfoto di sini, tapi jarang yang tahu kalau di bawah monumen ada prasasti yang menceritakan ringkasan perjuangan Pattimura.
Kalau malam hari, lampu-lampu di sekitar lapangan menyala, dan tempat ini jadi favorit warga lokal untuk jogging atau sekadar duduk-duduk. Saran saya: datang sore hari, nikmati matahari terbenam, lalu lanjutkan dengan kuliner malam di Jalan Sultan Hasanuddin yang tidak jauh dari sini.
Masih di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, ada Gereja Tua Hila yang dibangun tahun 1620. Arsitekturnya perpaduan gaya Portugis dan lokal. Dindingnya dari batu karang, atapnya dari sirap kayu. Gereja ini masih aktif digunakan untuk ibadah, jadi kalau kamu datang hari Minggu, kamu bisa ikut misa.
Yang unik, di halaman gereja ada makam-makam tua dengan nisan berbahasa Belanda dan Portugis. Salah satunya makam seorang kapten VOC yang meninggal tahun 1667. Tidak ada tiket masuk, cukup menjaga kesopanan dan tidak mengganggu jemaat yang sedang beribadah.
Berada di Pulau Saparua, benteng ini dibangun VOC tahun 1676. Namanya diambil dari kota Duurstede di Belanda. Sekarang, sebagian besar bangunannya sudah runtuh, tapi struktur utama masih berdiri. Dari atas benteng, kamu bisa melihat Laut Seram dan perahu-perahu nelayan yang lalu-lalang.
Benteng Duurstede punya cerita kelam: di sinilah Kapitan Pattimura memimpin perlawanan tahun 1817, dan beberapa tentara Belanda tewas. Pemerintah setempat sudah merenovasi sebagian area, tapi masih banyak bagian yang dibiarkan alami. Tiket masuknya sangat murah, dan di sekitar benteng ada penjual kelapa muda yang menyegarkan.
Apakah semua benteng di Maluku bisa dimasuki?
Tidak semua. Beberapa benteng seperti Benteng Victoria masih aktif digunakan militer. Area publik tetap bisa diakses, tapi ada batasan waktu dan area tertentu yang tidak boleh dimasuki.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi museum Siwalima?
Cukup 1-2 jam untuk melihat semua koleksi. Tapi kalau kamu suka membaca detail, siapkan waktu 3 jam.
Apakah ada transportasi umum ke Banda Neira?
Ada kapal dari Pelabuhan Ambon, tapi jadwalnya tidak setiap hari. Alternatif lain, pesawat dari Bandara Pattimura ke Bandara Bandanaira.
Apakah anak-anak cocok diajak ke tempat-tempat ini?
Cocok, terutama Museum Siwalima dan Benteng Tolukko yang punya ruang terbuka. Tapi untuk Banda Neira, perjalanan lautnya bisa membuat anak mabuk.
Kapan waktu terbaik berkunjung ke Maluku?
April hingga November, saat musim kemarau. Jalanan lebih kering, dan cuaca lebih bersahabat untuk jalan-jalan.
Maluku tidak akan habis diceritakan dalam satu artikel. Setiap benteng, museum, dan monumen punya lapisan cerita yang perlu digali perlahan. Jadi, kalau kamu benar-benar ingin merasakan atmosfer sejarahnya, jangan buru-buru. Duduklah sejenak di bangku taman dekat Benteng Victoria, atau ngobrol dengan penjaga museum Siwalima. Mereka tahu lebih banyak dari yang tertulis di buku panduan.