London City Lionesses Borong Bintang, Klub WSL Lain Curigai Pelanggaran Aturan Gaji

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 23:21:31 WIB
London City Lionesses borong pemain bintang, klub WSL lain curigai adanya pelanggaran aturan batas gaji.

MALUKU — Kegemilangan perekrutan London City Lionesses menjadi buah bibir. Namun, di balik kekaguman, sejumlah petinggi klub rival justru diliputi kebingungan. Pertanyaan utamanya: bagaimana mungkin klub sekecil London City mampu membayar pemain sekelas bintang Spanyol dan Inggris itu tanpa melanggar aturan batas gaji (salary cap) WSL?

Pendapatan Hanya £902.000, Rugi Operasional Tembus £10,6 Juta

Kecurigaan itu bukannya tanpa dasar. Laporan keuangan terakhir klub yang berbasis di Kent itu—untuk musim 2024-25 saat mereka promosi ke divisi utama—mencatat total pendapatan hanya £902.000. Sebaliknya, kerugian operasional mencapai £10,6 juta, lebih dari sepuluh kali lipat pendapatan mereka.

Situasi itu terjadi saat belum ada aturan finansial ketat. Kini, regulasi baru WSL sudah jelas: gaji pemain tidak boleh melebihi 80 persen pendapatan klub ditambah maksimal £4 juta atau 25 persen pendapatan (mana yang lebih besar). Pelanggaran bisa berujung pada pengurangan satu poin untuk setiap kelebihan £100.000, hingga potensi 10 poin jika overspend di atas £900.000.

Musim 2025-26 Masih Masa Transisi, Sanksi Baru Berlaku 2026-27

Namun, ada celah penting. Regulasi tersebut menyatakan sanksi tidak akan ditegakkan terhadap klub selama periode 2025-26. Hal ini dikonfirmasi oleh sumber dari lebih dari setengah lusin klub WSL kepada Guardian. Musim lalu diperlakukan sebagai tahun transisi atau "dry run".

Artinya, tak ada klub yang akan dihukum karena overspend di musim 2025-26. Sanksi baru benar-benar bisa diterapkan mulai musim 2026-27. Ini berarti London City, yang juga merekrut Janni Thomsen, Nicole Anyomi, Grace Geyoro, Lucia Corrales, dan Alanna Kennedy, harus segera meningkatkan pendapatan secara drastis atau bersiap menghadapi pengurangan poin.

Keyakinan Pemilik vs Skeptisisme Klub Lain

Pemilik London City, pengusaha Amerika Michele Kang, yakin pemain sepak bola wanita bisa mendorong kesuksesan komersial. Klub yakin mereka sepenuhnya patuh dan transparan terhadap liga. Kehadiran Putellas, pemegang dua Ballon d'Or, dan Earps diyakini telah memicu pertumbuhan komersial di seluruh liga.

Namun, banyak pihak di liga bersimpati pada Kang karena ia tak bisa memanfaatkan pendapatan klub pria seperti klub-klub lain. Pertanyaan fundamental tetap menggantung: apakah proyek ini berkelanjutan? Jika Kang benar, pemilik klub wanita lain akan menyesal tidak berinvestasi lebih awal. Jika salah, kerugian besar akan terlihat pada laporan keuangan yang baru akan dipublikasikan pada musim semi 2028.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top