Ambon, kota terbesar di Maluku, punya karakteristik geografis yang unik: jalanan berbukit, ruas sempit di pusat kota seperti kawasan Batu Merah dan lateri, serta jembatan Merah Putih yang menghubungkan Pulau Ambon bagian Utara dan Selatan. Kondisi ini langsung memengaruhi ongkos transportasi. Ojek pangkalan di Pasar Mardika, misalnya, bisa mematok tarif lebih tinggi dari argo taksi di kota besar karena medan dan waktu tempuh yang tidak bisa diprediksi.
Artikel ini akan membandingkan tarif transportasi online dan konvensional di Maluku dengan kota-kota besar lain. Fokusnya bukan pada nominal pasti—karena data harga berubah cepat—melainkan pada struktur, kebijakan daerah, dan kebiasaan pengemudi yang membentuk tarif akhir.
Maluku adalah provinsi kepulauan dengan lebih dari 1.000 pulau. Rute antar-pulau seperti Ambon ke Seram atau Ternate (Maluku Utara) tidak bisa dilayani ojol biasa. Untuk perjalanan darat di dalam kota, jarak tempuh pendek tapi macet di titik-titik seperti simpang tiga Air Salobar atau pertigaan Passo membuat tarif per kilometer lebih tinggi daripada di jalan tol Jakarta.
Di sisi lain, jumlah pengemudi ojol di Maluku masih terbatas. Data dari Dinas Perhubungan setempat menunjukkan rasio kendaraan online per penduduk lebih kecil dibandingkan Jawa. Akibatnya, ketika permintaan naik—misalnya jam pulang kantor atau hari libur—sistem otomatis menaikkan tarif. Pengemudi juga cenderung menolak order jarak pendek karena margin tipis.
Di Jakarta, tarif ojol untuk jarak 5 kilometer rata-rata berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000 tergantung promo. Di Surabaya, angkanya sedikit lebih rendah. Namun di Ambon, untuk jarak yang sama dari kawasan Karang Panjang menuju Pasar Mardika, pengemudi bisa meminta Rp30.000 sampai Rp40.000—terutama jika hujan atau malam hari.
Penyebabnya bukan semata-mata keserakahan. BBM di Maluku lebih mahal karena biaya distribusi. Pengemudi juga harus memutar balik di jalan yang tidak memiliki jalur alternatif. Ditambah lagi, tidak ada skema tarif batas bawah yang ketat dari pemerintah daerah seperti di DKI Jakarta yang diatur Pergub No. 12 Tahun 2020.
Untuk taksi konvensional, tarif di Maluku biasanya berdasarkan kesepakatan, bukan argo. Dari Bandara Pattimura ke pusat Kota Ambon, misalnya, sopir taksi bandara mematok tarif tetap yang bisa dua kali lipat dari tarif ojol. Ini berbeda dengan taksi di Bandara Soekarno-Hatta yang menggunakan argo resmi.
Dinas Perhubungan Provinsi Maluku dan Kota Ambon sebenarnya sudah mengeluarkan Surat Keputusan tentang tarif batas atas dan bawah untuk angkutan umum. Namun implementasinya di lapangan sering longgar. Banyak pengemudi ojol dan taksi bandara yang beroperasi di luar ketentuan resmi.
Di kota seperti Yogyakarta atau Bandung, pengawasan tarif lebih ketat karena banyaknya perguruan tinggi dan wisatawan. Di Maluku, volume pengaduan masyarakat masih rendah. Akibatnya, tarif lebih sering ditentukan oleh pasar—artinya, sopir yang punya posisi tawar lebih tinggi.
Bagi warga lokal dan perantau yang sering bepergian di Maluku, beberapa trik bisa membantu menekan ongkos. Pertama, bandingkan harga antar-aplikasi sebelum memesan. Kedua, jika bepergian rombongan, tawar harga borongan dengan sopir taksi atau ojek langganan. Ketiga, hindari jam sibuk pagi (06.00-08.00) dan sore (16.00-18.00) ketika tarif dinamis melonjak.
Keempat, untuk perjalanan dari bandara atau pelabuhan, jalan sedikit ke luar area terminal untuk mencari angkutan umum biasa. Tarifnya bisa lebih murah 20-30 persen. Kelima, gunakan fitur "ride later" di aplikasi jika jadwal perjalanan sudah pasti—tarif bisa lebih stabil.
Apakah tarif ojol di Maluku lebih mahal daripada di Jakarta?
Ya, secara rata-rata tarif per kilometer di Maluku lebih tinggi karena faktor geografis, jumlah pengemudi terbatas, dan biaya operasional yang lebih besar. Namun, promo dari aplikasi kadang bisa menurunkan selisih.
Kenapa sopir taksi di Maluku jarang pakai argo?
Karena sebagian besar taksi di Maluku adalah taksi bandara atau taksi antar-jemput yang beroperasi di rute tetap. Pengemudi lebih memilih tarif borongan yang disepakati di awal untuk menghindari sengketa soal jarak tempuh dan kemacetan.
Bagaimana cara melaporkan tarif ojol yang tidak wajar?
Warga bisa menghubungi Dinas Perhubungan Kota Ambon di Jalan Sultan Hairun atau melalui aplikasi pengaduan online. Pastikan menyimpan bukti tangkapan layar tarif dan nomor pengemudi.
Apakah ada perbedaan tarif antara ojol dan ojek pangkalan?
Ojek pangkalan biasanya mematok tarif tetap yang lebih tinggi untuk jarak pendek, tapi bisa lebih murah untuk jarak jauh karena tidak ada biaya aplikasi. Ojol lebih transparan dengan tarif dinamis, tapi bisa melonjak saat permintaan tinggi.
Kapan waktu terbaik memesan ojol di Maluku agar dapat tarif murah?
Pagi hari sebelum jam 06.00 atau siang antara pukul 10.00-14.00. Hindari jam pulang kantor dan malam minggu karena permintaan melonjak drastis.
Memahami struktur tarif transportasi di Maluku bukan hanya soal angka, melainkan tentang membaca medan, kebiasaan lokal, dan kebijakan daerah. Dengan informasi ini, warga dan wisatawan bisa merencanakan perjalanan lebih efisien tanpa kaget dengan ongkos di lapangan.