Keberhasilan SMAN 12 Ambon tidak datang secara instan. Guru Pendamping, Max Henry Lesilolo, mengungkapkan bahwa persiapan tim sudah berlangsung selama kurang lebih lima bulan melalui kegiatan ekstrakurikuler rutin.
“Kami menjadikan kegiatan ini sebagai ekstrakurikuler sehingga latihan dapat dilakukan secara rutin. Selama kurang lebih lima bulan, anak-anak berlatih setiap hari, mulai pagi hingga sore, untuk mempersiapkan diri menghadapi perlombaan,” ungkap Max.
Salah satu anggota tim, Juan Letelay, menambahkan bahwa sistem latihan yang dijalani sangat ketat dan rinci. “Hampir setiap hari kami berlatih dari pagi hingga malam. Prosesnya memang berat, tetapi semua itu menjadi bagian dari perjalanan untuk meraih prestasi,” katanya.
Menurut Juan, tantangan terbesar yang dihadapi tim bukanlah soal materi, melainkan mental bertanding. Ia mengaku sempat merasa lawan-lawan yang dihadapi, terutama sekolah-sekolah unggulan dari berbagai daerah di Maluku, lebih unggul.
“Awalnya kami merasa lawan-lawan yang dihadapi lebih unggul. Namun, melalui latihan yang panjang dan kerja keras, serta penyertaan Tuhan, kami akhirnya bisa meraih juara pertama,” jelas Juan.
Sementara itu, Max menyoroti tantangan menjaga kondisi fisik para siswa selama masa persiapan dengan intensitas tinggi. “Tantangan kami selama latihan adalah menjaga kesehatan anak-anak karena intensitas latihan cukup tinggi. Namun, kami terus berusaha agar mereka dapat tampil maksimal,” ujarnya.
Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi MPR RI, Wachid Nugroho, yang bertindak sebagai dewan juri, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta. Ia menilai para pelajar telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI.
“Alhamdulillah, kita sudah sampai pada titik ini. Ini adalah sebuah perlombaan yang luar biasa. Adik-adik, baik yang masuk final maupun yang sejak pagi mengikuti perlombaan, sudah benar-benar mampu mengimplementasikan Empat Pilar MPR RI dengan sangat baik,” ungkap Wachid.
Ia juga berterima kasih kepada para guru pembimbing yang telah mendukung generasi muda untuk memahami nilai-nilai kebangsaan. Wachid optimistis perwakilan Maluku mampu bersaing di babak final nasional yang akan digelar di Jakarta.
Juan Letelay menegaskan bahwa keberhasilan di tingkat provinsi bukanlah akhir. Ia berharap timnya bisa memberikan hasil terbaik di tingkat nasional sekaligus mengharumkan nama daerah.
“Harapan kami adalah memberikan hasil terbaik di tingkat nasional sekaligus mengharumkan nama Maluku. Kami ingin membuktikan bahwa siswa-siswa Maluku mampu berprestasi dan bersaing di tingkat nasional,” tegas Juan.
Max menambahkan, tim akan terus meningkatkan kemampuan sebagai persiapan menghadapi kompetisi di tingkat nasional. “Ini bukan akhir dari perjalanan kami. Kami akan terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan berharap dapat memberikan penampilan terbaik untuk mengharumkan nama Maluku di tingkat nasional,” tandasnya.