4 Spesifikasi HP Android Murah yang Bisa Makin Buruk di Tahun Ini Akibat Krisis Komponen

Penulis: Ujang Rahmat  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 01:05:31 WIB
Layar ponsel Android murah tahun ini terpaksa menggunakan panel HD+ 60 Hz akibat krisis komponen.

MALUKU — Dampak krisis pasokan chip dan komponen elektronik yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu belum sepenuhnya pulih. Bagi produsen ponsel Android, tekanan ini paling terasa di segmen harga rendah. Strategi yang dipilih: mempertahankan harga jual dengan mengorbankan peningkatan spesifikasi.

Layar: Resolusi dan Refresh Rate Bisa Stagnan

Alih-alih memakai panel IPS LCD dengan resolusi Full HD+ dan refresh rate 120 Hz, pabrikan mulai mundur ke panel HD+ 60 Hz di beberapa model baru. Langkah ini memangkas biaya produksi secara signifikan.

Akibatnya, pengalaman scrolling dan menonton video jadi kurang mulus. Bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan layar 90 Hz, perbedaan ini cukup terasa.

RAM dan Penyimpanan: Kapasitas Kecil Kembali Jadi Andalan

Konfigurasi 4 GB RAM dengan storage 64 GB perlahan kembali menjadi standar di kelas bawah. Padahal, tahun lalu beberapa merek sempat membawa RAM 6 GB sebagai fitur unggulan di harga yang sama.

Kombinasi ini membuat multitasking berat dan penyimpanan aplikasi besar seperti game jadi terbatas. Pengguna harus lebih sering membersihkan cache atau bergantung pada kartu microSD.

Kamera: Sensor Lama dan Fitur AI yang Dikurangi

Tidak ada peningkatan berarti pada sensor utama. Pabrikan masih mengandalkan sensor 13 MP atau 50 MP entry-level yang sama seperti dua tahun lalu. Fitur seperti night mode atau perekaman video 4K mulai dihilangkan dari daftar spesifikasi.

Bagi pengguna yang menginginkan hasil foto malam yang layak, opsi di segmen ini semakin terbatas. Algoritma pemrosesan gambar pun tidak mendapat pembaruan signifikan.

Baterai dan Pengisian Daya: Kapasitas Besar Tapi Pengisian Lambat

Kapasitas baterai 5.000 mAh masih menjadi standar. Namun, kecepatan pengisian daya justru tidak naik. Banyak model baru yang hanya mendukung pengisian 10W hingga 18W, sementara merek lain di kelas serupa sudah menawarkan 33W atau 45W.

Artinya, mengisi penuh baterai 5.000 mAh bisa memakan waktu lebih dari 2 jam. Ini jadi kelemahan signifikan bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang butuh isi daya cepat.

Krisis komponen memang belum berakhir, tapi bukan berarti tidak ada p pilihan bagus di segmen entry-level. Kuncinya, baca spesifikasi dengan teliti dan bandingkan antar model secara langsung. Jangan tergiur hanya karena harga murah atau desain baru, karena performa harian tetap jadi prioritas utama.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: bgr.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top