Review Dell XPS 13 (2026): Laptop Rp 11 Jutaan yang Terasa Sekelas MacBook Air, Tapi Bukan Tanpa Kompromi

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 20:26:31 WIB
Dell XPS 13 (2026) varian entry-level dengan prosesor Intel Core 5 dan RAM 8GB yang diuji untuk produktivitas harian.

MALUKU — Unit yang diuji adalah varian entry-level dengan prosesor Intel Core 5 "Wildcat Lake", RAM 8GB, dan SSD 512GB. Selama pemakaian intensif untuk membuka 10-15 tab Chrome, menonton YouTube, dan mengetik dokumen, tidak ada hambatan berarti. Performa mulai melambat ketika tab yang terbuka menumpuk hingga 20-25—itu pun di luar kebiasaan pemakaian normal.

Desain: Lebih Ringan dari MacBook Air, dengan Dua Keputusan Desain yang Tepat

Bobotnya cuma 2,2 pon (sekitar 1 kg)—lebih ringan dari MacBook Air M5. Ini membuatnya nyaman dibawa bolak-balik kantor atau dimasukkan ke tas tanpa terasa membebani. Chassis CNC aluminum-nya kokoh, tidak ada flex yang mengganggu di area keyboard maupun layar.

Dell membuat dua keputusan desain yang justru tidak ada di saudaranya yang lebih mahal, XPS 14 dan XPS 16. Pertama, ada lipatan kecil di tepi layar yang memudahkan membuka laptop dengan satu tangan—hal sepele yang jarang diperhatikan sampai kamu mengalaminya sendiri. Kedua, tata letak keyboard kembali ke desain tradisional dengan jarak antar-tombol yang lega, bukan layout tanpa celah yang sempat dikritik di generasi sebelumnya.

Layar 2.5K: Cerah, Tajam, dan Satu-satunya di Kelasnya yang Punya Layar Sentuh

Panel 13,4 inci dengan resolusi 2560 x 1600 ini menghasilkan gambar yang tajam dan warna yang hidup. Kecerahan SDR mencapai 398 nit—sedikit di bawah MacBook Neo yang mencatat 452 nit, tapi masih sangat nyaman dipakai di ruangan terang maupun di dekat jendela. Untuk konten HDR, brightness naik ke 420 nit.

Yang membedakannya dari kompetitor di harga yang sama: dukungan layar sentuh. Ini fitur yang jarang ditemukan di kelas ini, dan meski bukan fitur yang saya pakai setiap hari, tetap berguna saat ingin scroll cepat atau menunjuk elemen tertentu tanpa menyentuh trackpad.

Performa dan Baterai: Bukan Mesin Gaming, Tapi Andal untuk Produktivitas

Skor Geekbench 6 single-core 2684 dan multi-core 7952 memang kalah dari MacBook Neo (3535/8920), tapi untuk workload harian perbedaannya tidak terasa. Laptop ini bukan untuk editing video 4K atau gaming berat—kalau itu kebutuhannya, cari laptop dengan dGPU.

Baterai adalah kejutan terbesar. Dalam pengujian, XPS 13 bertahan 14 jam 29 menit—mengalahkan MacBook Neo yang berhenti di 13 jam 26 menit. Dalam pemakaian nyata, laptop ini selalu menyelesaikan 8 jam kerja dengan sisa daya 30-35%, cukup untuk menonton video sebelum tidur.

Kelemahan: Webcam Biasa Saja dan Hilangnya Jack Audio

Dua hal yang perlu kamu pertimbangkan sebelum membeli. Pertama, webcam 1080p-nya menghasilkan gambar yang "cukup" untuk video call—masih bisa dipakai, tapi jangan harap tampil secerah di video call dengan iPhone. Kedua, dan ini yang lebih merepotkan: tidak ada jack headphone 3.5mm sama sekali.

Di rumah, ini bukan masalah. Di kantor, kamu akan sadar betapa seringnya butuh colokan audio untuk menonton video tanpa mengganggu rekan kerja. Solusinya cuma satu: siapkan headset wireless atau USB-C dongle, dan jangan lupa membawanya setiap hari.

Kesimpulan: Untuk Siapa Laptop Ini Layak Dibeli?

  • Kelebihan: build quality premium setara MacBook, baterai lebih awet dari MacBook Neo, layar sentuh cerah, bobot teringan di kelasnya, harga kompetitif
  • Kekurangan: jack audio hilang, webcam pas-pasan, RAM 8GB tidak bisa di-upgrade, performa mentah kalah dari MacBook Neo

Dell XPS 13 (2026) adalah pilihan terbaik di kelas laptop Windows budget saat ini. Kalau kamu butuh laptop ringan untuk kerja produktivitas, baterai seharian penuh, dan desain yang tidak malu dipakai di meeting dengan klien—laptop ini layak masuk daftar teratas. Tapi kalau kebutuhanmu lebih berat dari sekadar Chrome dan Google Docs, atau kamu sudah terikat ekosistem Apple, MacBook Neo tetap jadi jawaban yang lebih aman.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top