AMBON — Kapolda Maluku Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi penentu utama masa depan institusi Polri, bukan sekadar fasilitas atau anggaran. Pernyataan ini disampaikan saat dirinya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPN Polda Maluku di Negeri Passo, Kota Ambon, Kamis (6/8/2026).
Dadang menilai pembangunan SDM yang unggul, berintegritas, profesional, dan humanis merupakan investasi strategis jangka panjang. Menurutnya, hal ini berkorelasi langsung dengan peningkatan kualitas pelayanan publik dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Dalam sidak tersebut, Dadang mengingatkan bahwa masyarakat menilai Polri dari interaksi langsung dengan anggotanya di lapangan, bukan dari gedung atau kendaraan dinas. Ia menekankan bahwa fasilitas modern tanpa didukung SDM mumpuni tidak akan menghasilkan pelayanan yang profesional.
“Kekuatan terbesar organisasi Polri bukan berada pada gedung yang megah ataupun peralatan modern, melainkan pada kualitas manusianya. Ketika SDM Polri berkualitas, pelayanan publik akan semakin baik, kepercayaan masyarakat meningkat, dan citra institusi akan semakin kuat,” tegas Dadang.
Ia menambahkan, pembangunan SDM harus dilakukan secara berkesinambungan. Proses tersebut dimulai sejak rekrutmen, pendidikan pembentukan, pembinaan karakter, hingga pengembangan karier. SPN menempati posisi strategis sebagai “kawah candradimuka” yang menentukan wajah Polri di masa depan.
Dadang memandang SPN memiliki peran yang lebih luas dari sekadar lembaga pendidikan teknis kepolisian. Institusi ini menjadi tempat penanaman nilai-nilai dasar pengabdian bagi setiap calon Bhayangkara.
“SPN bukan sekadar tempat mendidik seseorang menjadi polisi. SPN adalah tempat membangun karakter, integritas, kepemimpinan, disiplin, tanggung jawab, dan etika pengabdian. Nilai-nilai yang ditanamkan hari ini akan melekat sepanjang perjalanan pengabdian mereka sebagai anggota Polri,” ujarnya.
Para siswa yang tengah menjalani pendidikan, lanjut Dadang, sedang dipersiapkan menjadi representasi negara dalam memberikan rasa aman dan keadilan. Mereka kelak akan berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan pelayanan.
Kapolda menyoroti transformasi metode pembelajaran yang harus beradaptasi dengan dinamika zaman. Tantangan tugas kepolisian saat ini jauh lebih kompleks, mulai dari kejahatan berbasis teknologi, konflik sosial, hingga meningkatnya ekspektasi publik terhadap pelayanan yang cepat dan transparan.
Oleh karena itu, proses belajar mengajar di SPN tidak cukup hanya berorientasi pada teori dan hafalan peraturan. Dadang meminta para instruktur untuk mengembangkan pendekatan aplikatif seperti simulasi penanganan kasus, studi kasus nyata, dan evaluasi berbasis pengalaman lapangan.
“Jangan hanya melatih siswa menghadapi situasi yang ideal. Latih mereka menghadapi kondisi yang paling sulit. Ajarkan bagaimana menghadapi masyarakat yang sedang marah, korban yang mengalami trauma, pelaku yang agresif, hingga situasi yang mengharuskan seorang polisi mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” tutup Dadang.