JAKARTA — Setelah sempat dibuka menguat, IHSG berbalik arah ke zona merah pada pukul 09.15 WIB. Indeks LQ45 ikut tertekan, turun 0,63 persen atau 4,00 poin ke level 629,84.
Koreksi terjadi di tengah aksi seleksi saham oleh investor menyusul perubahan komposisi dalam MSCI Global Standard Indexes. Dua saham Indonesia dikeluarkan dari indeks tersebut, satu di antaranya diturunkan kategorinya ke MSCI Global Small Cap Index. Sembilan saham lainnya juga resmi dilepas dari daftar indeks global itu.
Meski demikian, MSCI tidak mengubah komposisi negara dalam indeks Emerging Markets setelah menyelesaikan Annual Country Review 2026. Status pasar saham Indonesia sebagai emerging market tetap dipertahankan.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut level 6.308 hingga 6.269 menjadi support kunci yang harus dipertahankan IHSG. Selama bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan menuju 6.462 hingga 6.550 masih terbuka.
Sebaliknya, jika IHSG gagal menembus resistance 6.377 dan jatuh di bawah 6.308, indeks berpotensi menguji level 6.269 lalu 6.247. “Resistance mayor berikutnya berada di sekitar 6.635 hingga 6.723,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Dari sisi fundamental domestik, pasar juga mencermati data utang pemerintah yang mencapai Rp 10.293,69 triliun hingga Juni 2026. Angka ini setara 41,26 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau tumbuh Rp 1.819,79 triliun sejak akhir September 2024.
Liza menyoroti pertumbuhan utang yang mencapai 67,5 persen sejak 2020, melampaui pertumbuhan PDB nominal sebesar 64,9 persen. Rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan fiskal juga meningkat menjadi 19 persen dari sebelumnya 14,6 persen pada 2022.
“Meski masih di bawah batas 60 persen PDB, tren ini perlu diwaspadai untuk menjaga keberlanjutan fiskal,” tegasnya.
Dari mancanegara, sentimen pasar cenderung positif setelah data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juli 2026 dirilis sesuai ekspektasi. Headline CPI naik 0,1 persen month to month dan melambat menjadi 3,4 persen year on year, sementara core CPI naik 0,2 persen dan turun ke 2,5 persen.
Data tersebut mengurangi tekanan bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September naik menjadi 62 persen dari sebelumnya 54 persen.
Namun, pasar tetap mewaspadai potensi kenaikan inflasi pada Agustus akibat lonjakan harga minyak. Pelaku pasar kini menantikan data Producer Price Index (PPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS sebagai indikator utama arah kebijakan moneter.
Ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian utama. AS dan Iran kembali berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya memiliki kendali penuh atas jalur tersebut. Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum AS menghentikan permusuhan.
“Serangan terhadap kapal komersial di kawasan Bab el-Mandeb juga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasokan energi,” kata Liza.
Di kawasan Asia, bursa saham bergerak variatif pada pagi ini. Indeks Nikkei menguat 1,62 persen ke 68.614,00, indeks Shanghai naik 0,45 persen ke 3.964,4, dan indeks Kospi melonjak 4,08 persen ke 6.847,41. Sementara itu, indeks Hang Seng melemah 0,27 persen ke 25.370,81 dan indeks Straits Times turun ke 5.689,26.
Bursa Eropa pada Kamis (12/08) kompak melemah, dengan Euro Stoxx 50 turun 0,16 persen dan DAX Jerman melemah 0,20 persen. Di Wall Street, indeks S&P 500 menguat 0,30 persen ke level 7.749,19, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,30 persen ke 53.770,16.