IHSG Diprediksi Sideways di Kisaran 6.400-6.500, Investor Tunggu Arah Kebijakan BI

Penulis: Pandu Wibisono  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:39:01 WIB
Pedagang memantau pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

JAKARTA — Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 6.400-6.500 pada perdagangan Rabu. Pelemahan saat pembukaan pasar terjadi seiring pelaku pasar yang memilih menunggu pengumuman hasil RDG BI siang ini.

Konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Kebijakan ini dinilai sejalan dengan laju inflasi domestik yang masih berada dalam kisaran target, di tengah upaya menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Deposit Facility dan Lending Facility Diproyeksi Tetap

Selain suku bunga acuan, pasar juga mencermati keputusan terkait deposit facility rate dan lending facility yang diperkirakan tetap masing-masing di level 4,75 persen dan 6,5 persen. Adapun laju pertumbuhan kredit diproyeksikan naik menjadi 13 persen year on year (yoy) pada Juli 2026, dibandingkan 12,67 persen yoy pada Juni 2026.

"Investor diperkirakan juga akan mencermati penjelasan Bank Indonesia mengenai arah-arah kebijakan selanjutnya," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Tekanan dari Eksternal: Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Global

Dari mancanegara, harga minyak mentah ditutup menguat terbatas setelah Iran menyatakan akan mengambil sikap lebih ofensif dan Selat Hormuz tetap ditutup. Keputusan Amerika Serikat (AS) untuk tidak memperpanjang gencatan senjata turut menopang kenaikan harga komoditas energi tersebut.

Kekhawatiran harga minyak yang bertahan di level tinggi memicu kenaikan imbal hasil obligasi di berbagai negara. Imbal hasil obligasi pemerintah AS mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade, sementara obligasi Jepang tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam tiga dekade. Obligasi Jerman tenor 30 tahun mencatat level tertinggi sejak 2011, dan obligasi Prancis tenor 30 tahun mencapai titik tertinggi sejak 2008.

Saham-saham sektor teknologi yang sensitif terhadap suku bunga menjadi yang paling terdampak dari kenaikan imbal hasil global. Penerbitan obligasi dalam jumlah besar oleh perusahaan-perusahaan teknologi untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) semakin memperparah kekhawatiran terkait utang.

Bursa Global dan Regional Kompak Melemah

Bursa saham Eropa mayoritas melemah pada Selasa (18/8/2026). Euro Stoxx 50 turun 0,94 persen, DAX Jerman melemah 0,80 persen, dan CAC 40 Prancis melemah 0,82 persen. Indeks FTSE 100 Inggris menjadi pengecualian dengan menguat tipis 0,07 persen.

Wall Street juga kompak ditutup di zona merah. S&P 500 melemah 0,69 persen ke level 7.691,76, Nasdaq Composite turun 1,68 persen ke 29.490,91, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,22 persen ke 53.343,40.

Bursa Asia pagi ini bergerak bervariasi. Nikkei melemah 2,61 persen ke 65.702,00, Kospi turun 5,42 persen ke 6.497,41, Hang Seng melemah 0,17 persen ke 25.428,81, dan Straits Times melemah 0,24 persen ke 5.687,26. Indeks Shanghai justru menguat 1,83 persen ke 3.917,4.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top