Tenun Ikat Mawar Ambon Tembus Pasar Belanda, Satu Lembar Kain Dikerjakan Hingga Tiga Minggu

Penulis: Ramli Siregar  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 21:38:01 WIB
Tenun Ikat Mawar asal Ambon menembus pasar Belanda dengan pewarna alam dan harga Rp3,5 juta per lembar.

Usaha tenun asal Ambon, Tenun Ikat Mawar, memperkenalkan kain khas Maluku hingga ke Belanda dengan mengedepankan pewarna alam. Satu lembar kain berukuran dua kali satu meter dijual dengan harga Rp3,5 juta dan membutuhkan waktu produksi hingga tiga minggu.

JAKARTA — Tenun Ikat Mawar, usaha kain tenun khas Maluku yang berbasis di Ambon, kian meluaskan jangkauan pasarnya hingga ke Belanda. Produk yang mengedepankan pewarna alam ini ditawarkan dengan rentang harga Rp1 juta hingga Rp3,5 juta tergantung ukuran dan kerumitan motif.

Pemilik usaha, Lucy, mengatakan permintaan dari Belanda datang secara berkala setiap beberapa bulan. Seluruh proses produksi, mulai dari bahan baku hingga pewarnaan, tetap dilakukan di Ambon.

Harga Kain Tenun Ikat Mawar Berdasarkan Ukuran

Lucy menjelaskan bahwa harga jual kain sangat bervariasi. Kain dengan ukuran paling besar, yakni dua kali satu meter, dibanderol dengan harga Rp3,5 juta.

"Untuk yang paling besar, harga Rp3,5 juta itu ukurannya dua kali satu meter," ujar Lucy saat ditemui di ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta, Sabtu.

Proses Produksi Kain dengan Pewarna Alam yang Panjang

Berbeda dengan pewarna sintetis, pembuatan kain menggunakan pewarna alam memerlukan waktu yang jauh lebih lama. Dalam sebulan, usaha ini hanya mampu memproduksi 20 hingga 30 lembar kain karena proses pewarnaan yang ekstra hati-hati.

"Untuk pewarnaan alam ini, kita membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu untuk satu lembar kain karena proses pewarnaannya memang lama," katanya.

Mengembangkan Bahan Pewarna Alami Sendiri

Untuk menekan biaya produksi yang dinilai cukup tinggi, Lucy mulai membudidayakan tanaman yang menjadi bahan baku pewarna alam, salah satunya indigo atau nila. Langkah ini ditempuh untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus melestarikan warisan budaya.

"Kalau untuk pewarnaan, memang biayanya lumayan tinggi dibandingkan dengan pewarna sintetis. Tetapi sekarang kami kembali mengembangkan pewarnaan alam," kata Lucy.

Peran Bank Indonesia dalam Ekspansi Pasar

Tenun Ikat Mawar tidak hanya mengandalkan pameran mandiri. Selama kurang lebih lima tahun terakhir, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku memberikan pembinaan meliputi peningkatan kapasitas, akses pasar, hingga dukungan permodalan.

"Terima kasih banyak kepada BI Maluku karena sudah membina kami selama kurang lebih lima tahun. Kami sudah diberikan banyak pelajaran, kemudian dibantu dalam akses pasar, informasi, dan juga permodalan," ungkap Lucy.

Harapan untuk Generasi Muda Maluku

Melalui partisipasi di berbagai pameran, Lucy berharap masyarakat Maluku, khususnya generasi muda, semakin bangga terhadap tenun sebagai identitas budaya. Ia menegaskan pentingnya peran orang Maluku sendiri dalam memperkenalkan warisan ini ke kancah yang lebih luas.

"Biarlah ini menjadi bagian untuk mengenalkan warisan budaya ini. Karena kalau bukan orang Maluku yang mengenalkan, siapa lagi?" tandas Lucy.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top